Minggu, 11 Februari 2018

Surat Cinta Untuk Ainul (2)






Teruntuk kamu, lelakiku tersayang...

Jika Habibi memiliki Ainun
Aku pun memiliki Ainul
Jika Habibi begitu mencintai Ainun
Aku pun begitu mencintai Ainul
Do'aku, agar selalu bisa bersama Ainul
Layaknya kebersamaan Habibi dan Ainun

Sayang... sudah 18 bulan kita bersama - sama mengarungi perahu pernikahan. Ombak tenang dan ombak yang berguncang pun kerap menghatam perahu kita. Perahu kita sempat oleng di terpa badai permasalah. Namun, Allah sudah menyelematkan kita bahkan menambahkan penumpang dalam perahu kita. Putri cantik nan shalehah itu adalah hadiah Allah.

Sayang... Kamu tidak perlu bertanya sudah berapa banyak hati yang aku lalui sebelum berhenti di kamu. Berapa banyak tatap mata yang membuat aku merasa, “Ini akhirnya, aku siap menepi dan membangun masa depan bersama.” Atau sudah berapa banyak pintu yang aku putar kenopnya, melirik sedikit ke dalamnya kemudian memilih tidak memasukinya karena ternyata tidak nyaman terasa.

Namun dengan kamu, saat bertemu kamu, ada desiran kenyaman dalam hati serta keyakinan yang aku pun tak tau bagaimana bisa itu terjadi. Mungkin inilah jalan Allah yang sudah direncanakannya? Mungkin inilah seseorang yang Allah pilih untuk menjadi "Mata dan Cahaya" bagiku dan anak - anak kami dalam dunia? Pertanyaan itu yang selalu terpikirkan olehku.

Dalam keyakinan dan kebimbangan hatiku kepadamu, Allah-lah yang menjadi pengaduanku. Sujud shalatku dan lirihan do'a dalam qiyamul lail, terus berusah meyakinkanku akan dirimu. Sampai pada saatnya, aku benar - benar yakin ketika kamu dengan gentle mempertanggung jawabkan perasaanmu. Kamu datang kepada waliku untuk memintaku dengan baik. Dan itulah seharusnya yang memang agama ajarkan.

Aku melting yaaang saat itu. Aku menjadi sangat yakin ketika restu orangtuaku mengalir bersama do'a - do'a mereka. Dimata mereka pun kamu laki - laki yang baik dan mereka percaya bahwa kamu yang terbaik untuk anaknya, untuk cucunya.

Sayangku... Imamku... Ainul-ku... Aku tau, aku masih jauh dari istri yang sempurna dan masih terus selalu belajar untuk menjadi istri yang kau inginkan agar kau tak lagi tergoda oleh wanita lain selain aku, istrimu, istri halalmu. Saat ini, aku pun harus belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Tetapi untuk itu,  aku membutuhkanmu. Aku butuh bimbinganmu, aku butuh dukunganmu dan terpenting aku butuh do'a darimu.

Suamiku.... Pintu syurgaku... Tetaplah setia denganku, tetaplah dampingi kami, aku dan anakmu. Janganlah kamu mencoba memasuki orang lain dalam keluarga kita ya yaaang.. Sudah cukup, kekhilafanmu. Walau Allah menjanjikan syurga bila aku ikhlas namun bukan syurga itu yang aku rindukan.


Sayang... Biarkan hanya aku yang selalu mengecup mata lelahmu. Biarkan hanya aku yang mengusap sayang punggungmu. Membiarkanmu memanjat tubuh atau menggelitik pinggang demi menunjukkan rasa sayangmu. Biarkan hanya aku yang mendampingimu untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah warrahmah. Biarkan hanya aku yang menjadi tempat pulang ternyamanmu. 

Biarkan hanya aku yang menjadi rumahmu ketika kamu lelah di luar sana. Rumah bagi tawamu yang pecah karena bahagia. Rumah bagi dukamu saat mereka yang tak lagi bersamamu. Rumah bagi tanyamu ketika sudah tak ada lagi yang menjawabmu. Rumah bagi sakitmu ketika lukisan yang ternyata tak seindah bayangan.

Suamiku....  Saat ini, ruang pernikahan kita semakin ramai bukan? Ketika sudah ada si kecil yang menambah kebahagian. Dampingilah kami selalu karena kami sudah menemukan kenyaman berada dekat kamu. Biarkan kami selalu bersandar di bahumu ketika kami gundah dan peluklah kami dalam dekapan ternyamanmu.

Semoga Allah selalu menjaga rumah tangga kita, keluarga kita. Karena mulai saat ini kita harus selalu berjalan bergandengan untuk menjadi orang tua yang terbaik untuk buah cinta kita. Jaga selalu hati dan cinta kami yaa suamiku..


Sincerely yours,

Istri yang senantiasa mencintaimu

NHW#3 ; Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Asslamu'alaikum warohmatullahi wabarakatuh.....

Happy Friday pals.. sudah memasuki weekend lagi yaa.. Seperti biasa aku akan update NHW ku setiap weekend. Sebetulnya aku tak ingin mengerjakan ini mendekati deadline, namun apalah dayaku, baru saja buka laptop si bayi sudah meringik cari susu atau meringik ingin dikelonin bobonya. Ibu - ibu pastilah sudah tau, jika kita menyusui sambil tiduran dan kelonin ya kebablasan jugalah ya kita Ibunya, kan jadi enak.. hehehe...

Alhamdulillah dan tak terasa sekali, aku mengikuti kelas matrikulasi ini sudah hampir satu bulan berjalan. Tetapi rasanya masih butuh banyak sekali ilmu yang harus aku pelajari niih. Oya, setelah sebelumnya kita belajar tentang adab mencari ilmu dan langkah - langkah menjadi Ibu profesional, untuk materi di minggu ketiga ini kita akan membelajari bagaimana cara membangun peradaban dari dalam rumah. Kalian tahu bahwa rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak - anak. Oleh karena itu, sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Pemberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh - sungguh.





Pada materi ini aku dituntut untuk menggali lebih dalam mengenai diriku, pasanganku, keluargaku, anak-anakku serta lingkungan sekitarku. Dari proses inilah nantinya diharapkan aku menjadi lebih mengenal siapa aku dan apa tujuan Allah menghadirkan aku di muka bumi. Tentunya Allah menciptakan kita dengan maksud dan tujuan tertentu, secara garis besarnya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun masing-masing manusia pastinya diamanahi tujuan-tujuan spesifik di dalam hidupnya.

Selama ini aku pun seringkali menanyakan pada diri sendiri, mengapa aku dilahirkan, mengapa aku besar dari kedua orangtuaku, mengapa aku dipertemukan dengan suamiku, mengapa aku diamanahi Sheeva dan banyak pertanyaan mengapa lainnya. Namun aku masih kesusahan untuk mengumpulkan kepingan puzzle hingga membentuk sebuah gambaran utuh. Melalui materi ini, perlahan aku mulai bisa mengerucutkan apakah misi keluarga dan misi kehidupanku.

Berbeda dengan NHW - NHW sebelumnya, NHW#3 ini memiliki pertanyaan yang lebih spesifik untuk masing - masing peserta. Ada tiga kelompok peserta yang mendapat jenis pertanyaan, yakni; mereka yang belum menikah, yang sudah menikah dan mereka yang sedang berjuang menjadi single parent. Oleh karena aku masuk ke kelompok yang sudah menikah, maka inilah beberapa point yang harus aku renungkan dan cari jawabannya.



www.maritaningtyas.com

Merumuskan Misi Kehidupan dan Keluarga

Setelah aku dan suamiku menemukan potensi unik dari kami, kami pun berdiskusi merumuskan misi kehidupan dan keluarga kami.

Surat Cinta untuk Suami

Diawali dengan tugas pertama yaitu menuliskan surat cinta kepada suami. Duuh... tugas menukis surat cinta ini bikin revisit sweet memories kala pertama bertemu suami dan memilih dia untuk menjadi imam hidup aku. Sebetulnya, tugas ini dimaksudkan agar kami napak tilas mengapa dulu saling jatuh cinta dengan pasangan, dan bisa merasakan jatuh cinta lagi dan lagi kepada pasangan. Alhamdulillah, untuk urusan menulis surat cinta bukan hal yang sulit buat aku dan ini menjadi ajang curhat sama suami deh. Hehehe.. Maklum, aku tipe orang yang lebih suka menyatakan perasaan lewat tulisan daripada perkataan langsung.

Seingatku, terakhir kali kukirimkan surat cinta untuknya adalah beberapa bulan sebelum kami menikah. Tujuannya sih biar gak jenuh dan stress aja mempersiapkan pernikahan. Hehehe..

And, this is it.. surat cinta untuk suami; Surat Cinta Untuk Ainul(2)

Respon suami? Stay cool man.. Hahaaa... Padahal istrinya sudah berusaha merangkai kata yang indah, doi cuma senyum dan bilang "apa siih" hahaaa... Doi mah gitu orangnya tapi aku tetap cinta :p

Bagiku, menulis itu cara paling ampuh untuk berinstropeksi diri. Karena menulis melewati banyak proses berpikir, mengingat-ingat, dan menelaah. Ternyata sebagai istri banyak sekali yang belum aku penuhi.

Selama menulis surat itu, aku berpikir kembali mengapa kami dipertemukan, mengapa dia yang Allah pilihkan. Allahu Akbar, Allah memang tidak pernah salah menggariskan... dia hadir untuk melengkapi semua kekuranganku, dia hadir untuk membuatku belajar tentang penerimaan, kepercayaan, kesabaran, kemandirian, kesederhanaan dan banyak hal lainnya.

Dia mampu menjadi penyeimbang diriku yang agak egois dan tak sabaran. Dia mampu menjadi penyeimbang diriku yang terkadang terlalu manja dan kekanak - kanakan. Dia yang mampu mengajarkan aku untuk menikmati hidup dan selalu optimis. Ya, entah apa jadinya aku kalau bukan dia pasanganku.

Selesai menuliskan surat itu, aku cuma bisa kembali bersyukur telah dikaruniai pasangan yang sedemikian sabar dan dewasa. Tentu saja dia tidak sempurna, ada banyak kekurangan di dirinya, sebagaimana aku pun yang punya banyak kekurangan. Namun bukankah istri pakaian untuk suaminya, dan suami merupakan pakaian untuk istrinya?


www.maritaningtyas.com


Memahami dan menemukan jawaban kenapa Allah pertemukan kami semakin memperkuat aku, bahwasannya kami pasti dapat menjadi sebuah tim yang handal untuk menjadi partner hidup serta fasilitator terbaik bagi pendidikan anak - anak kami. Kami berharap pun akan menjadi panutan yang baik untuk mereka kelak, Insyaa Allah. Kami hanya perku lebih banyak saling berkomunikasi, bertukar pikiran, bermuhasabah dan konsisten terhadap apa yang kami ajarkan dan menjadi aturan dalam keluarga kami. Bismillah Yaa Allah.. Insyaa Allah 'till Jannah... Sehidup Sesyurga. Aamiin Allohumma Aamiin.....

Mengenal Anak

Aku adalah new mom, pengalaman menjadi Ibu belumlah expret. Anakku saja baru satu dan usianya pun baru 3 bulan. Pastilah banyak hal yang harus aku kenali mengenai anak aku dan pastinya aku akan mengenali dia berbagai hal dalam kehidupan ini.

Sheeva Mikayla Khairunnisa (Sheeva) - dilahirkan tiga bulan yang lalu. Alhamdulillah dilahirkan melalui persalinan normal. Sheeva adalah anak pertama sama kaya aku, mamahnya. Kalau ada yang bilang anak pertama itu istimewa, aku setuju. Kami menunggu kehadiran Sheeva setelah enam bulan usia pernikahan kami. Saat akhirnya bisa memeluk tubuh mungilnya, aku dan suami merasa lengkap. Bahkan dengan segala history penyakitku, kami saat itu ikhlas kalau memang Allah menunda untuk memberikan kami amanah yakni Sheeva.

Saat ini Sheeva sedang belajar miring dan tengkurap. Dia juga lagi senang mengenal orang lain selain Apih sama Maminya, mengenal warna dan suara. Sebagaimana nama yang kami sematkan padanya; Sheeva Mikayla Khairunnisa. Kami berharap ia tumbuh menjadi wanita yang cantik dan memposana baik hati maupun budi. Sheeva ini anak yang ramah, murah senyum dan manis budi. Jika di sapa orang ia akan memberikan senyuman termanisnya, tapi kalau lagi gak crunchy yaa.. hehhe..

Jika ditanya apa sih potensi yang sudah terlihat pada Sheeva? Belum terlalu terlihat karena Sheeva masih tiga bulan, jadi aku harus lebih mengenalnya. Namun, jika diperhatikan Sheeva ini senang sekali bermain air, jika sudah berada di air dia bisa anteng malah kalau diangkat dari air dia menangis. Mungkin dia mau jadi atlit renang yaa.. Do'akan yaaa pals. Aamiin Allohumma Aamiin..

Sheeva menurutku adalah anak yang disiplin, dia harus on time jika minta ASI. Sheeva juga selalu terukur waktu ngASI-nya. Waktu Sheeva baru lahir, aku tak pernah capek untuk membangunkan Sheeva seperdua jam karna dia akan bangun sendirinya. Namun dengan begitu aku harus tetap menfasilitator Sheeva untuk menggali potensi kelak. Karna pasti semakin bertumbuh usianya akan semakin terlihat potensi pada dirinya.

Dari  Sheeva aku belajar secara langsung bahwasanya anak-anak memang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Rasa ingin tahu, semangat belajar yang tinggi, bibit kemandirian, pintar, pantang menyerah, dan rajin karba bahwasanya mereka adalah makhluk Allah - semuanya sudah terinstall di dalam diri mereka. Sebenarnya aku dan Apihnya cuma tinggal menjaga fitrah, memfasilitasi dan mengarahkannya.

Aku percaya, anak-anakku dipercayakan kepadaku oleh Allah bukan tanpa sebab, Allah memilihku sebagai ibu dari Sheeva pasti ada alasan besar. Setidaknya aku tahu, akulah yang paling mengenal karakter anak-anakku dan bisa menjadi sahabat untuk mereka menemukan potensinya.

Mengenal Diri Sendiri


www.maritaningtyas.com

Jika aku ditanyakan "seberapa dekatkah kamu dengan dirimu?" Aku mah suka bingung jawabnya. Terkadang aku lebih mudah untuk menemukan kekuranganku dibanding dengan potensiku. Oleh karna itu, aku selalu tertarik belajar dan mendapat ilmu baru serta mengikuti komunitas seperti IIP ini. Kalau tidak karena IIP dan sampai tahap kelas matrikulasi yang sedang aku ikuti ini mungkin aku juga tidak berusaha tahu tentang potensi yang ku miliki.

Pada dasarnya aku suka membaca walau bacaannya itu novel kisah romantis gitu tapi aku juga sangat tertarik dengan ilmu-ilmu seperti psikologi, ilmu tentang bisnis, ilmu menjadi pengusaha. Karena aku lulusan sarjana psikologi, aku begitu tertarik untuk membuka jasa konseling. Karena menurutku, aku ini senang menjadi teman curhatnya teman - temanku. Namun untuk menggapai gelar psikolog aku haruslah kuliaj lagi selama dua tahun. Bukan aku tak mau, tetapi ketika sudah memiliki Sheeva aku ingi fokus terlebih dahulu menjadi seorang "Ibu" 

Aku orang yang sangat senang sekali jika aku dapat membantu orang sekitarku. Aku ini fleksibel dalam berbagai hal. Bekerja pun seperti itu. Aku bekerja dengan orang lain hayuk, kerja sendiri pun no problemo. Membaur dengan sekumpulan orang, hayuk. Akan tetapi, aku kurang begitu suka memulai pembicaraan terlebih dahulu, namun saat ada yang mengulurkan pertemanan, aku akan sangat antusias menyambutnya. Dan ketika sudah kenal dekat, aku bisa sangat hafal apa-apa saja kesukaan temanku, dan kapan ulang tahunnya serta aku akan sangat perhatian dengan dia. 

Aku suka mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka, entah itu teman sebayaku atau orang yang lebih tua dariku. Karna bagiku, aku dapat belajar banyak hal, juga belajar menyikapi bagaimana ketika masalah yang sama hadir dalam kehidupanku. Aku juga dengan senang hati memberikan solusi jika memang diminta.

I just love learning dan aku ini willingg to be lear n kalau dalam menyerap ilmu. Terutama jika itu bisa meningkatkan kualitas diriku. Aku tidak ingin berada di titik yang sama setiap harinya, aku haus belajar dan ingin bisa lebih baik lagi, dalam segala hal di kehidupanku. 

Ilmu itu akan menguap jika tidak diamalkan dan dibagikan. Oleh karenanya, apabila aku mendapatkan kesempatan untuk berbagi atas secuil ilmu atau informasi yang aku miliki, apalagi ilmu tersebut bermanfaat untuk sekitarku, aku akan senang sekali. Aku ini senang berorganisasi dan mengikuti segala kegiatan yang bermanfaat untuk sosialisasi diri sendiri.

Mengenal Lingkungan dan Komunitas

Sejak menikah 2016 lalu, aku diboyong suamiku untuk tinggal bersamanya. Kebetulan suami tinggal dan kerja di pulau Kalimantan, so aku harus pindah dan stay di sana. Aku harus kembali membuka jalan untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru padahal aku ini orang yang agak sulit berbaur dengan orang - orang baru.

Asing bagiku, banyak yang harus aku perbaiki dan pelajari dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekitarku. Aku kadang banyak down-nya karna orang baru disekitarku tak sesuai dengan harapanku. Namun aku nyaman karna di tempat tinggal baruku ini kemana-kemana dekat dan tak macet. Nah... Untuk mengisi kehampaan aku di lingkungan baru, aku mulai mengenal beberapa komunitas, diantaranya Rumbel Menulis dan Institut Ibu Profesional.

Aku mulai mempertanyakan maksud Allah mempertemukanku dengan teman-temanku saat ini, dan kontribusi apa yang bisa aku berikan kepada lingkungan tempat tinggalku. Ke depannya dengan jaringan pertemanan yang aku miliki, aku berharap dapat menularkan ilmu - ilmu yang aku pelajari, diantaranya ; parenting dan psikologi. Miris sekali jika melihat para remaja yangasih berseragam terlibat tauran, membolos sekolah bahkan sampai ada yang mabuk dan mengkonsumsi NARKOBA. Aku juga miris melihat anak-anak balita yang terkadang masih keluar rumah dengan baju minim dan perhiasan yang berlebihan, mengganti baju di luar rumah, menganggap anak-anak kecil berkelahi dan saling memukul itu wajar, remaja-remaja yang khusyuk dengan gadget dan game.

It takes a village to raise a child

Ya, membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Ketika orang tuanya agak cuek, masyarakat sekitar cuek, negara cuek, jangan heran kalau generasi muda negeri ini mulai terkikis iman, akhlak dan semangat belajarnya. Harus ada yang mau bergerak untuk perlahan membenahi, harus ada yang mau repot untuk mengurusi anak orang lain, karena sesungguhnya dengan mengurusi anak orang lain secara tidak langsung kita mengurusi anak-anak kita sendiri dengan membangunkan tempat bergaul yang ideal bagi mereka.

Bismillahirrahmanirrahim.. meskipun masih samar aku mulai menemukan apa misi kehidupan dan keluargaku di dunia ini. Semoga aku bisa menerjemahkan kehendak Allah dengan baik dan bisa membangun peradaban dari dalam rumah, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitar aku tinggal. Tentu saja dengan tujuan untuk menggapai ridho Allah SWT. Aamiin Allohumma Aamiin.


Alhamdulillah yaaa selesai juga NHW#3 ini. Walau dengan curhatan-curhatan ibu dastera. Ini, tetapi semoga saja bisa menjadi motivasi teman - teman juga untuk menemukan misi spesifik dalam keluarganya. Gimana guys, kapan kita curhat? Hehhee...

Wassalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.






Minggu, 04 Februari 2018

NHW #2 ; IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA





Assalamu'alaikum Wb. Wb.

Happy weekend bunda - bunda profesional nan shalehah kebanggaan keluarga.. Wauuuahhh.. sudah ketemu weekend lagi yaa, artinya sudah waktunya mengumpulkan NHW lagi niih.. hehehe... Aku baru bisa mengerjakan NHW itu setiap weekend karena kalau weekday full time mengurus buah hati, kan suami libur kerja di weekend jadi bisa gantian gitu deh jagain si bayi yang Alhamdulillah hari ini sudah memasuki 3 bulan. Time so fast yaaa.. sudah 3 bulan saja anak bayi menggemaskan itu bersama - sama dengan aku. Banyak sekali amazing moment yang sudah kami lewati selama ini, namun masih banyaklah moment - moment yang harus kami lewati setelah ini.

Kebetulan, materi perkuliahan online di IIP minggu ini adalah tentang "Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga". Ahhh.... aku ingin sekali menggapai predikat ini menjadi Ibu yang profesional kebanggaan keluarga. Ada beberpa sub materi yang dibahas untuk menjadi Ibu profesional dalam perkuliahan tersebut, diantaranya adalah ;

  • Apa itu Ibu profesional ?
  • Apa itu komunitas Ibu profresional ?
  • Bagaimana tahap - tahapan untuk menjadi Ibu profesional ?
  • Apa saja indikator keberhasilan Ibu profesional ?
Nah.. materi - materi tersebut adalah kunyahan yang sangat mengigit di minggu ini buat aku. Apa kalian setuju jika aku membahas materi - materi tersebut di sini? Mana dong suaranyaaa.... Setuju aja deh ya biar cepat :p
Baiklah sebelum aku membagikan pembahasan tentang NHW minggu kedua ini, aku akan membahas materi - materinya dulu yaa. Sudah siap menyimak dan memahami kan yaaa... let's read it !!!!

Apa itu Ibu Profesional ?

Apa yang terbesit dalam pikiran kalian membaca kata"Ibu profesioanal"? Apa sih Ibu profesional itu?
Baiklah, kita akan mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna ;1​) perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2) sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3)​ panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4)​ bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5)​ yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota. 
Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1)​ bersangkutan dengan profesi; 2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak, dan lain - lain. 


Berdasarkan dua makna tersebut di atas, seorang perempuan yang menyanding gelar IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik
Bagaimana para Ibu dan calon Ibu, sudah mendapat gambaran kan mengenai Ibu Profesional? Apakah kita sudah layak mendapat gelar "Ibu Profesional" ? Untuk lebih meyakinkan lagi dan memahami agar kita dapat menjadi Ibu Profesional yang membanggakan keluarga akan aku bahas lagi sub materi berikutnya.

Apa itu Komunitas Ibu Profesional ?

Seperti yang sudah aku perkenalkan di tulisanku minggu lalu mengenai komunitas Ibu Profesional, lalu mengapa aku mengikuti komunitas tersebut. Aku merasa belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja berjamaah itu lebih baik agar konsistensi dan semangat belajar bisa terjaga. Oleh karenanya aku mengikuti komunitas yang mewadahi para ibu professional, yakni sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Aku berterima kasih sekali karena ada forum pembelajaran seperti yang aku ikuti. Mungki itu juga kali ya yang melatar belakangi mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Selain memberikan wadah belajar untuk para perempuan agar dapat menjadi Ibu profesional, Ibu Septi Peni pun memiliki visi dan misi yang mendasari agar Institut Ibu Profesional dapat melangkah lebih terukur dan terarah. Visi dan misi yang dikemban oleh Institut Ibu Profesional adalah ;

www.maritaningtyas.com
MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  • .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
  • Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Bagaimana Tahapan- Tahapan dan Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu yang disematkan dengan predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, lalu bagaimana sih untuk mendapatkan predikat ibu profesional? Berikut adalah 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta indikator apa saja yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a) Bunda Sayang – merupakan tahapan pertama dimana seorang Ibu harus memperkaya dirinya dnegan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas sebagai Ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga dapat menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.


www.maritaningtyas.com


Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;
  • Apakah anak - anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
  • Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istri mendidik anak - anak sehingga keinginannya terlibat lebih dalam pendidikan anak semakin tinggi?
  • Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak - anak?

b) Bunda Cekatan – tahapan kedua dimana seorang Ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas sebagai Ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.


www.maritaningtyas.com


Indikator untuk mencapai tahap tersebut adalah ;
  • Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
  • Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai "kasir" keluarga sekarang menjadi "manager keuangan keluarga"
  • Berapa ilmu tentang manjemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?
c) Bunda Produktif – Untuk mencapai tahapan ketiga ini, yakni Ibu dikatakan Ibu produktif, maka penting bagi seorang Ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri Ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga Ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.


www.maritaningtyas.com



So, apakah kita sudah produktif untuk saat ini? Jika kita telah merasa bahwa kita telah produktif, mari kita check seberapa produktifkah diri kita saat ini?
  • Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
  • Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang du ranah minat dan bakat kita tersebut
  • Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
  • Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?
d) Bunda Shalehah - adalah tahapan tertinggi bagi seorang Ibu untuk dapat menjadi Ibu yang profesional kebanggan keluarga. Untuk mencapai tahapan tertinggi ini, seorang Ibu diharuskan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran Ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.



www.maritaningtyas.com


Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apakah kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;
  • Nilai - nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
  • Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
  • Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
  • Apakah kita merasa bahagian dengan program tersebut?
Menjadi Kebanggaan Keluargaku

Setelah mendapat dan mencoba mengunyah materi yang diberikan fasilitator dalam kelas minggu kedua ini, kami pun memulai berdiskusi. Diskusinya heboh sekali, kelihatan sekali excited para Ibu - Ibu dikelas tersebut yang ingin terus belajar untuk menjadi lebih baik sehingga dapat menjadi kebanggaan keluarganya. Nahh.... untuk dapat lebih memahami dan mencoba mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dari materi kelas tersebut, tibalah fasilitator memberikan NHW #2 yang sesuai denga tema. NHW kali ini cukup membuat aku agak cooling down karena diminta membuat "CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN" baik sebagai individu, istri dan Ibu. Duh....ini membutuhkan semedi yang kuat untuk menentukan indikatornya.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang tidak muluk-muluk dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau aku harus melakukan wawancara dengan suami seharusnya dengan anak juga sih namun kan anakku baru 3 bulan mana bisa diajak wawancara. Dari suami, aku perlu tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak, aku perlu membuat indikator apa yang akan aku lakukan sebagai Ibu agar anak aku bahagia. Karena anakku masih bayi jadi indikator yang nanti aku susun akan berbeda dari Ibu - Ibu yang sudah dapat mewawancari anaknya. Proses ini membuat aku menjadi tau bagaimana aku dimata suami dan bagaimana seharusnya aku untuk anakku. Jawaban dari suami sungguh membuat hati ini agak melting karena ternyata selama ini, suami sudah bahagia dengan aku yang apa adanya katanya...

Dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;
  • SPECIFIC (unik/detil)
  • MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
  • REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • TIMEBOND ( Berikan batas waktu)


www.maritaningtyas.com

Finally, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim aku memulai mengerjakan NHW #2 yaitu membuat checklist indikator dari hasil instropeksi diri dan wawancara suami serta bermain bersama si bayi. Sebetulnya membuat checklist ini adalah tantangan tersendiri untuk aku, dan sebuah pembelajaran agar aku dapat konsisten serta istiqomah dalam menjalankan indikator - indikator yang sudah dibuat demi mencapai tujuan yang diharapkan. Memang ya untuk menjadi sebuah kebanggaan itu memerlukan perjuangan, kerja keras juga konsistensi menjalankannya. Bismillah.. Let's do it and I can do it. Believe it!!!

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Saat mengerjakan NHW ini, aku merasa diriku sebagai seorang individu perlu sekali berbenah diri dan memperbaiki diri, untuk itu aku sebagai individu membuat sebuah indikator yang aku kaitan hubunganku sebagai individu dengan Allah SWT dan hubunganku sebagai individu dalam masyarakat. Berikut ini adalah indikator yang sudah aku susun ;

A.1. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa




Untuk menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, berikut adalah indikator yang dibuat ;
  1. Memperbaiki waktu shalat fardu
  2. Memperbaiki bacaan Al - qur'an dan meningkatkan waktu membaca Al - qur'an
  3. Merutinkan tilawah minimal satu lembar setiap habis shalat Fardu
  4. Merutinkan kembali shalat sunnah, antara lain ; rawatib, dhuha, hajat, tahajjud
  5. Mulai mengikuti kajian ilmu dan liqo
A.2. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat



Adapun indikatornya adalah ;
  1. Bersosialisasi dengan tetangga dan masyarakat sekitar
  2. Saling senyum dan sapa ketika bertemu dengan tetangga
  3. Mengikuti kegiatan yang diadakan di lingkungan tempat tinggal
  4. Jika menulis status di media sosial sebaiknya menuliskan sebuah informasi yang berbobot
  5. Mengkonsistenkan menulis blog apabila mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk dibagikan

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Untuk membuat checklist indikator ini aku harus melakukan obrolan bersama suami. Sebenarnya sih aku sudah menduga jawaban suami ketika aku tanya, pasti jawaban tak jauh seputar "jangan moody-an dan kurang - kurangi lah cemburu sama curiganya" aissh..... tebakan aku tak meleset sedikit pun. Apa yang menjadi jawaban suami ternyata sama persis dengan dugaan aku.. Hampura yaaang, aku hanyalah perempuan yang punya hati dan rasa sakit. Wajar atuhlah kalau cemburu mah da kamu kasep :p. Siti Aisya saja suka cemburu sama Nabi Muhammad SAW, ngelesnya aku kalau di nasehatin suami tentang sifat pencemburuku.. Ahahahaa.. Atuh da sekarang jamannya banyak pelakor yaaak. Suami hanya bisa berdecak heran. ahahaa..

Baiklah, berikut ini indikator profesionalisme perempuan sebagai seorang istri



  1. Lebih sabar dan dapat mengatur emosi
  2. Tidak moody-an
  3. Kurangi rasa cemburu dan curiga sama suami
  4. Dapat membagi waktu antara kewajiban sebagai istri dan Ibu
  5. Lebih banyak senyum daripada cemberut
  6. Be your self
C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Nah.. dalam membuat checklist indikator profesionalisme perempuan sebagai Ibu ini adalah sesuai dengan kondisi aku saat ini. Oleh karena, Sheeva masih berusia 3 bulan jadi jika diajak mengobrol pun hanya senyum sambil haoohaooo hakeeeng haaooo. Sheeva pasti mau Maminya selalu ada buat dia dan mengASIhi dia sampai dua tahun.

Ini adalah indikator profesionalisme perempuan ketika aku sebagai Ibu ;




  1. Memberikan ASI eksklusif hingga Sheeva berusia 2 tahun
  2. Lebih dapat mengontrol emosi
  3. Membantu Sheeva belajar memiringkan badan dan tengkurab
  4. Membacakan dogeng atau buku cerita kepada Sheeva
  5. Mengenalkan berbagai suara kepada Sheeva
  6. Mengenalkan berbagai warna kepada Sheeva
  7. Mengenalkan Sheeva anggota keluarga, terutama keluarga inti seperti; Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Om dan Tante

Karena Sheeva masih sangat membutuhkan peran aku sebagai Ibunya, aku berdiskusi dengan suami bahwa aku mungkin tak akan kembali ke ranah publik. Aku ingin membersamai Sheeva dalam tumbuh kembangnya, aku ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan setiap moment perkembangannya dan aku ingin menjadi orang pertama pula yang mengajarkan Sheeva berbagai hal terutama untuk pembelajaran agamanya. Aku teringat wejangan Bu Septi Peni bahwa "rejeki itu pasti, kemulianlah yang harus dicari"


Alhamdulillah selesai sudah NHW#2 ini. Semoga aku bisa konsisten dan istiqomah ya dalam menjalankan checklist aku ini minimal untuk satu bulan kedepan, dan semoga dapat melakukan continues improvement agar tercapai goal aku untuk menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Btw, apakah teman - teman juga punya standarisasi seperti ini? Jangan - jangan teman - teman sudah lebih jago dari aku niihh.. Coba yuuuk share di kolom komentar. Hatur nuhun ☺


Quote of the week :
" Bersungguh- sungguhlah di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik - Dodik Mariyanto"

Minggu, 28 Januari 2018

NHW#1; ADAB MENUNTUT ILMU - IIP KALTIMRA BATCH 5


ADAB MENUNTUT ILMU
Assalamu’alaikum para Ibu shalehah kebanggaan keluarga….

Sudah lama rasanya tak menjamahi blog ini dengan tulisan yang tercurah dari hati. Maklum lah beberapa bulan ini di sibukkan dengan status baru sebagai “Ibu”. Alhamdulillah dipenghujung tahun lalu, Allah SWT telah menganugerahi aku putri cantik yang saat ini usianya sudah 2,5 bulan. Karena aku adalah newbie dalam dunia peribuan dan parenting, makanya masih suka keteteran antara kewajiban aku sebagai seorang Ibu dan istri dengan hobi menulis aku, ini saja masih curi – curi waktu, ketika si kecil lagi dalam gendongan Apihnya. 

Pengalaman yang baru menjadi seorang Ibu membuat perubahan yang signifikan dalam kehidupan aku. Namun, setelah aku tahu aku akan menjadi seorang Ibu, aku selalu mencoba untuk belajar dan bertanya serta sharing dengan mereka yang telah menjadi Ibu yang sesungguhnya. Banyak referensi yang aku cari hingga aku mengikuti sebuah komunitas untuk menjadi Ibu yang professional, ya aku mengikuti komunitas Institut Ibu Profesional, dimana harapan aku dalam komunitas tersebut aku dapat belajar, berbagi serta aku dapat mengamalkan apa yang aku dapatkan dari para Ibu professional dalam komunitas tersebut. Setelah aku berhasil mengikuti kelas foundation Institut Ibu Profesional, saat ini aku sedang mengikuti kelas matrikulasi. Dimana kelas matrikulasi ini kita diberikan materi dan pembelajaran setiap minggunya dan akan diberikan Nice Home Work (NHW) setiap minggunya pula. 

Nah, ini adalah NHW pertama dikelas matrikulasi batch 5 yang aku ikuti. NWH ini adalah penentuan akankah aku lulus kelas matrikulasi atau harus mengulang kembali di batch berikutnya. Untuk materi  NHW yang akan aku bahas di sini adalah “Adab Menuntut Ilmu”. Yuks.. mari kita belajar bersama!!!

Berkenalan dengan IIP dan Kelas Matrikulasi

Pasti kalian sudah pada tahu dan dengar ya tentang IIP? IIP adalah kependekan dari Institut Ibu Profesional yang didirikan oleh Bunda Septi Peni yang juga merupakan pembuatan Jarimatika. Bunda Septi tentu memiliki tujuan mendirikan sebuah institute bagi para Ibu yakni untuk meningkatkan kualitas kaum Ibu di Indonesia bahkan saat ini IIP sudah merajalela sampai dengan ASIA. Woow.. hebat yaa. Aku pun sangat interest pada saat tahu ada sebuah wadah menimba ilmu tentang bagaimana menjadi Ibu yang berkualitas.

Aku kenal dengan IIP melalui postingan teman aku, setelah melihat berbagai sumber informasi mengenai IIP ini, aku langsung memutuskan melakukan pendaftaran. Kebetulan saat aku kenal IIP, aku sedang hamil sekitar 7 bulan. Alhamdulillah, rezeki yang luar biasa nih lagi hamil, persiapan untuk menjadi Ibu baru yang belum berpengalaman, eh ketemu dengan IIP yang In Syaa Allah ilmu yang diberikan dapat aku pelajari dan aplikasikan. Memang sih waktu kuliah aku mendapatkan pembelajaran tentang parenting, tentang psikologi keluarga, psikologi anak, namun ilmu di bangku kuliah tersebut hanyalah ilmu untuk mahasiswa yang akan mendapatkan gelar sarjana. Aplikasinya tak semudah teorinya. Setelah aku dinyatakan hamil dan akan menjadi Ibu, ternyata ada banyak hal yang harus dipersiapkan , bukan hanya sekedar materi dan mental saja namun berbagai ilmu pun harus dipersiapkan.

Banyak yang  berkomentar “jadi ibu kan natural aja, alamiah ngak usah belajar juga nanti terbiasa sendiri”.  Iya sih memang, rasa keibuan itu alamiah, yakin setiap perempuan pasti memiliki sifat keibuan. Apalagi jika kita melihat baby di tangan kita, langsung tanpa diminta ada rasa hangat dan kasih sayang yang menjalar ke seluruh tubuh. Anak nangis, kita bisa tahu kalau dia lapar, haus, butuh susu atau dia sedang demam, tak enak badan, ingin digendong, dan lain sebagainya.  Tetapi, menjadi Ibu bukan hanya masalah itu semata, apalagi jaman sudah semakin berkembang, pastinya perlu pengembangan wawasan dan pengetahuan agar lebih up to date dalam menjawab tantangan jaman. Kita tau sendiri ya, kids zaman now ini lebih kritis dan selalu ingin tahu, bahasa gahulnya kepo everywhere, nah.. gimana coba kalau Ibunya ngak mau belajar, mau jadi apa anak – anak kita kelak.

Kan ada sekolah, pilihlah sekolah yang bagus, yang bonafid, yang paling mahal, selesai sudah. Ah.. masa iya sesederhana itu? Kayanya enggak deh. Bagaimana pun, kelak anak – anak kita akan selalu menjadi tanggung jawab orangtuanya, bahkan di akherat kelak, kita sebagai orang tua akan dimintai pertanggung jawabannya. Masa iya, jika kelak Allah bertanya, kita jawab “sudah kami serahkan kepada sekolah dan gurunya ya Allah, tanyakan saja pada mereka” ahhaaa… ishh… malu doong.

Awal memutuskan mengikuti IIP karena aku merasa aku sangat membutuhkan bekal ilmu untuk menjadi seorang ibu. Walaupun menjadi seorang Ibu adalah fitrah dan setiap perempuan pasti memiliki sifat keibuan, namun tetap saja aku membutuhkan kunyahan ilmu tersebut. Memang sih, bisa saja kita belajar menjadi Ibu dari Ibu kita sendiri, tetapi kita pun membutuhkan teman – teman dan fasilitator untuk sharing tentang dunia peribuan, terutama tentang dunia peribuan di era digital saat ini. Sebagaimana motivasi aku mengikuti IIP ini adalah learning, sharing, doing. Aku berharap setelah aku mendapatkan pembelajaran dari perkuliahan ini,  aku dapat membagikan ilmu yang aku miliki dan dapat melakukan serta mengaplikasikan ilmu yang telah aku dapat. Dengan ilmu tersebut, aku pun berharap kualitas diriku akan meningkat baik sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat. Ada banyak kurikulum yang akan dipelajari di IIP ini, antara lain ; Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Shalihah.

Akan tetapi, untuk dapat menikmati ilmu – ilmu tersebut, aku harus dan wajib mengikuti kelas matrikulasi, dan Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk mengikuti kelas matrikulasi di batch 5 ini. Oiya, untuk dapat mengikuti kelas matrikulasi ini, kita diwajibkan mendaftarkan diri secara online dengan biaya Rp. 100.000,- dan ini adalah investasi seumur hidup. Perkuliahan secara online hanya melalui whatsapp, alasan kuat aku ingin menjadi bagian dari IIP. Hanya modal kuota dan aplikasi whatsapp kita akan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Cocok banget kan buat ibu – ibu kaya aku khususnya yang belum bisa melalang buana karena si bayi masih bayi :p

Kenapa sih harus kelas matrikulasi? Sebenarnya, sebelum memasuki kelas matrikulasi, kita diperkenalkan tentang IIP melalui kelas foundation. Nah, kelas matrikulasi ini diadakan biar kita paham dulu tentang materi – materi yang akan diajarkan agar bisa sejalan dengan visi misi yang dikemban oleh IIP. Jadi, saat kita masuk kelas berikutnya, ngak kaget – kaget banget gitu.

Perkuliahan Matrikulasi Minggu #1 : Adab Menuntut Ilmu

Sebelum mendapatkan pembelajaran yang spesifik tentang menjadi Ibu professional, kami para ibu hebat kelas matrikulasi disuguhkan dulu sebuah prolog mengenai adab menuntut ilmu. Pada pembahasan materi yang diberikan, kita diingatkan untuk tidak terlalu buru – buru fokus pada suatu ilmu sebelum kita memahami mengenai adab – adab dalam menuntut ilmu. Seperti pada sentilan kata yang diberikan dalam materi tersebut “barang siapa yang menimba ilmu karena semata – mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya. Namun, barang siapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya

“Karena ILMU adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU”

Wuuah… kalau sudah begini, jadi ingat zaman sekolah dan kuliah dulu yaa. Zaman menuntut ilmu dulu kadang suka menyepelekan adab mdari menuntut ilmu tersebut. Yang aku pahami dan menjadi prinsipku dalam menuntut ilmu dibangku sekolah itu mendapatkan nilai yang bagus apapun caranya yang penting nilai bagus. Walau aku suka bolos (upss.. semoga mamah sama bapak gak baca ini ya), suka telat, suka gak perhatiin dosen, yang penting aku dapat nilai bagus. Ckckckck.. please.. don’t try it !!!

Padahal seperti yang sudah dituliskan diatas ya, dalam menuntut ilmu itu bukanlah hasil yang menjadi tujuan utama, tetapi hasil adalah bonus dari sebuah proses pencapaian ilmu yang kita jalani. Oleh karenanya, dalam proses mencari ilmu, kita haruslah mencari dengan cara – cara yang baik, semisal ; dating tepat waktu, menghormati para guru, tidak belagu atau sok pintar walaupun kita sudah memahami dan mendapatkan materi tersebut sebelumnya. Ada baiknya kita mengosongkan gelas kita agar dapat menambah kedalaman materi yang kita miliki dan dapat pula menampung ilmu lainnya yang belum kita dapatkan.

Harapan aku setelah mengerti tentang adab menuntut ilmu adalah aku akan menjadi jauh lebih baik dalam menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu – ilmu yang aku miliki baik untuk diri sendiri, keluarga dan juga sesama. In Syaa Allah, jika seorang istri dan ibu memiliki adab dan berilmu, maka akan melahirkan keluarga serta generasi penerus yang memiliki ilmu dengan peradaban yang baik.

Setelah belajar dan berdiskusi mengenai materi pertama, tibalah gemuruh suara para Ibu di kelas matrikulasi mempertanyai tentang NWH #1 yang diberikan fasilitator. Dan taraaaaa……. Ada empat pertanyaan yang harus dijawab. Kalian mau tahu kah jawaban NWH versi aku? Bismillah… berikut adalah jawabanku

Pertanyaan Pertama : Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini !

Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman yang begitu signifikan sehingga pola pikir pun harus terus berkembang, terutama semenjak aku menikah dan memiliki putrid. Tentu saja visi dan misi hidupku berubah secara total. Saat aku masih single, belum memiliki tanggung jawab yang besar, aku hanya memikirkan goal duniawi. Lulus kuliah, aku ingin berkarir dan mengaplikasikan ilmu perkuliahanku hanya di dunia pekerjaan untuk menopang karirku. Namun, tak demikian ketika aku mengandung Sheeva hingga Sheeva lahir, tujuanku hidupku berubah seketika. Dalam benak dan pikiranku, aku memikirkan bagaimana caranya aku mendidik, mengasuh, membersamai dan menumbuhkembangkan anak – anakku kelak agar selalu sejalan dengan Al – Qur’an dan Al – hadist tetapi juga dapat tetap mengikuti perkembangan jaman. Oleh karenanya, jikalau aku disuruh memilih, aku ingin mengambil jurusan ilmu tentang IBU YANG BERILMU DAN BERADAB.

Saat aku kuliah pun bahkan jikalau aku mengambil kuliah kembali di universitas bonafid sekalipun, jurusan ilmu tersebut tidak aku temukan, namun lewat universitas kehidupan, aku yakin akan ada banyak cara mencapai jurusan yang aku inginkan. Semoga saja aku bisa lulus membanggakan dari jurusan yang aku pilih ini.

Pertanyaan kedua : Alasan terkuat yang dimiliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

Alasan terkuat sudah pasti anak – anak dan suami. Keluarga adalah alasan terkuat kenapa aku ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik. Saat ini, aku memang telah menjadi Ibu, namun ilmuku untuk menjadi Ibu yang memiliki ilmu yang beradab masih sangatlah jauh. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Aku sadar diri, sebagai Ibu yang masih belum berpengalaman dan jauh dari sempurna, masih memiliki gelas yang kosong dan butuh banyak sekali untuk diisi. Sedangkan anak – anakku akan semakin bertumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Mereka akan sangat membutuhkan Ibu yang dapat membersamai mereka, menjawab segala pertanyaan mereka serta mengarahkan mereka pada kehidupan yang lebih baik dan menjadikan mereka anak – anak yang berilmu dan beradab. Jikalau aku tak memiliki ilmu dan adab bagaimana bisa aku mewarisi mereka kehidupan yang terbaik.
Aku tak ingin hanya mengikuti perubahan jaman, aku tak ingin patah semangat dan terima nasib tanpa ikhtiar. Melalui inilah ikhtiarku ; terus mencari dan menggali ilmu dari berbagai sumber. Demi mereka, demi anak – anakku, demi keluargaku, demi bangsaku, demi agamaku dan demi negaraku.

Pertanyaan ketiga : Mengenai strategi menuntut ilmu yang direncankan dalam bidang yang ditekuni

Menurutku, menjadi Ibu yang berilmu dan beradab adalah seorang wanita yang mampu mengemban tugasnya dengan baik  sebagi seorang istri dan ibu serta Ibu yang dapat mengantarkan anaknya menjadi seseorang yang berilmu dan memiliki adab yang berkualitas. Seorang wanita yang harus tahu akan segala hal, seorang wanita yang dapat melakukan segala hal, seorang wanita yang dapat memaksimalkan perannya, tanggung jawabnya, kapasitas dan kapabilitas dirinya. Aku tak hanya ingin menjadi Ibu yang sekedar nyaman untuk anak - anakku, namun aku ingin menjadi Ibu yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, yang dapat menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan anak - anakku. Aku ingin pula bertumbuh menjadi istri yang lebih baik untuk suamiku. Lebih mengharagai, menghormati dan memberikan kenyamanan untuk suamiku dari segala peluh kesahnya. Aku ingin menjadi "rumah" yang nyaman untuk mereka pulang dan berkeluh kesah, yang selalu dirindukan olehnya.Serta aku ingin menjadi wanita yang bermanfaat dalam masyarakat.

Untuk mencapai goals tersebut, maka aku membutuhkan strategi yang aku rencanakan ;

1. Memperdalam Ilmu Keagamaan 

Agama adalah pondasi utama dalam kehidupan. Tanpa pondasi tersebut bagaimana aku dapat membangun sebuah kehidupan kelak. Aku menyadari bekal agamaku sangatlah minim, makanya itu aku selalu mencari dan belajar agama dari berbagai sumber. Baik melalui kajian keagamaan ataupun lebih banyak membaca tentaang segala ilmu keagamaan sesuai dengan keyakinan yang aku anut.

2. Belajar Ilmu Psikologi dan Parenting

Mempelajari ilmu psikologi dan parenting sudahlah hatam selama 4 tahun di bangku perkuliahan. Namun, saat aku mengalami kehidupan sesungguhnya menjadi seorang Ibu, aku sadar aku harus lebih banyak lagi memahami dan mengaplikasikan ilmu - ilmu psikologi dan parenting yang telah aku pelajari di bangku perkuliahan.Selain aku membuka lagi buku - buku psikologi dan parenting yang aku miliki, aku juga berkonsultasi dengan beberapa rekan yang kebetulan mereka telah menjadi seorang psikolog. Berdiskusi dengan mereka membuatku lebih membuka diri dan memahami kebutuhan akan diriku untuk menjadi apa yang aku harapkan.

3. Public Speaking

Aku adalah tipe orang tak suka banyak bicara dan tak berani mengeluarkan pendapat di muka umum. Aku hanya berani menuliskan pendapatku dalam sebuah tulisan tangan. Namun, aku menyadari demi bisa membagikan apa yang aku tahu dan apa yang menjadi pendapatku haruslah seimbang. Dalam hal ini adalah tak hanya melalui tulisan namun aku perlu juga tampil di depan public untuk membagikan apa yang aku tahu dan ide apa yang ada dalam pikiranku.

4. Memiliki Pengetahuan Digital

Perubahan dari masa ke masa mengharuskan kita untuk terus meng-upgrade diri dan pengetahuan. Tak hayal di era digital saat ini, memang kehidupan kita dipermudah oleh teknologi namun jika kita tak membekali diri dengan pengetahuan yang baik tentang dunia digital, maka bersiaplah dunia digital akan merusak kehidupan kita bahkan kehidupan masa depan anak - anak kita. 

5. Networking

Memperluas pertemanan sangatlah penting. Seperti halnya aku saat ini, aku bergabung di IIP Kaltimra (Kalimantan Timur dan Utara) selain untuk menambah wawasan ilmu, aku pun bertujuan untuk menambah teman dan saudara yang memiliki visi dan misi yang sejalan dalam belajar untuk menjadi Ibu yang berkualitas bagi anak - anak dan keluarganya. Bagiku, belajar sendiri tidaklah mudah, kita perlu teman untuk sahring bahkan untuk mengkoreksi kita jikalau ada hal yang belum kita pahami. Teman itu dapat mengingatkan kita dalam kebaikan dan kesabaran. So, perbanyaklah berteman dan taburkan kebaikan dimana pun karena suatu saat nanti kita akan menuainya.

6. Time Management

Aku sadar dalam urusan mengatuir waktu, aku ini sering kali keteteran. Apalgi saat ini, setelah putri pertama lahir, haruslah aku merubah semua jadwal harianku. Aku yang saat itu masih berdua saja dengan suami, masih suka keteteran membagi waktu apalgi ini sudah ada anak, aku harus ekstra mengatur waktu. Aku masih harus terus belajar tentang kekonsistenan dan mengatur emosiku yang suka moody-an. Apalagi saat menjadi seorang Ibu, aku tidaklah boleh egois, aku harus meredam moody-ku demi tujuan aku menjadi seorang Ibu yang berilmu dan beradab. Aku harus dapat membagi waktu antara aku dan bayi-ku, antara aku dan suamiku, antara aku dan hobi membaca dan menulisku serta antara aku dengan perkuliahanku di IIP.

Sejauh ini ke-6 strategi itulah yang terpikirkan dalam rencanaku untuk mencapai tujuan utamaku sebagai Ibu yang berilmu dan beradab.

Pertanyaan terakhir : berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang harus aku perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Aku sangat menyadari sejauh ini adab menuntut ilmuku masihlah sangat perlu diperbaiki. Aku masih suka on off saat mengikuti perkuliahan online, menyepelekan materi, tidak melakukan resume materi yang diberikan dengan baik dan kadang suka tak memperhatikan apa yang disampaikan. Karena itu, aku sangat perlu memperbaiki diri agar aku dapat menjadikan ilmu yang kudapatkan menjadi cahaya kemanfaatan. Perubahna yang perlu aku lakukan, yakni ;

1. Memperbaiki waktu

Sebisa mungkin aku meluangkan waktu untuk menyimak materi perkuliahan online yang sedang aku ikuti saat ini, bahkan aku harus lebih aktif lagi dalam perkuliahan tersebut.

2. Resume Materi

Melakukan resume materi yang seharusnya aku lakukan tak pernah aku lakukan, namun saat ini aku akan berusaha untuk meresume setiap materi yang diberikan dari perkuliahan online yang sedang aku ikuti.

3. Menambah waktu membaca

Membaca adalah bagian dari kehidupan aku. Namun, saat ini aku selalu keteteran untuk menyelesaikan bacaanku. Aku berharap, mulai saat ini aku akan memperbaiki waktu membacaku.

Hufthhh.... Alhamdulillah kelar juga nih NWH#1 nya. Semoga apa yang aku tuliskan ini bisa menjadi pembelajaran untuk para teman - teman pembaca yaaa.. Mohon maaf jika kurang detail penjelasan dari tulisan aku ini, maklum lah banyak jeda karna harus mengASIhi si bayi cantik. Oke, see you next week yaaa guys. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



Salam Ibu Pembelajar Hebat





Dia adalah Hadiah Tuhan

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ ﴿٤٩...