Minggu, 18 Februari 2018

NHW #4 ; Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah





Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Haiii guys... Apa kabar? Btw, happy long weekend yaa and Gong Xi Fa Chai bagi yang merayakan. Kali ini aku kembali dengan pritilan Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, sudah masuk minggu keempat dengan tugas yang semakin menantang hati, jiwa, pikiran dan badan.. tsaaah..

Setelah minggu lalu para penghuni kelas matrikulasi diajak berpikir tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah", minggu ini kami 'diteror' dengan materi tentang mendidik dengan kekuatan fitrah. Sangat jelas ya guys, pada benang merahnya antara bagaimana membangun peradaban dengan mendidik berdasarkan fitrah. Tidak akan terbangun sebuah peradaban jika orang tua tidak mampu menemukan, menjaga dan menumbuhkembangkan fitrah anak-anaknya.

Allah menurunkan manusia ke muka bumi dengan fitrah sebagai modal utama untuk menjadi khalifah, termasuk anak-anak kita. Biasanya orang tua, khususnya orang tua-orang tua baru kaya aku, pada awalnya selalu gagap dan kebingungan menjalani peran sebagai orang tua. Ikut seminar sana-sini, semua buku dilahap, artikel parenting di semua media diambil, akhirnya jadi galau dan bingung sendiri menerapkannya. Padahal kalau kita mau menggali lebih dalam, Allah sudah menyiapkan anak-anak dengan modalnya, kita tinggal menemukan dan mengarahkan sesuai kehendakNYA.

Pendidikan Anak dengan Kekuatan Fitrah




Alhamdulillah guys, melalui kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional aku kembali diingatkan mengenai mendidik dengan kekuatan fitrah. I will share a part of the lesson here, so that we can learn it together

Kalian merasa gak sih kalau selama ini kita heboh pada "apa yang harus dipelajari anak-anak kita", bukan pada "untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut". Sehingga kadang kita dibingungkan karena memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anak kita tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. Hmmm... Iya juga sih yaa?
Nah.. Sebetulnya aAada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH. Meski terlihat sederhana, namun untuk bisa menjalani proses tersebut ada beberapa tahap yang harus anda jalankan;

  • Bersihkan hati nurani kita, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan.
  • Gunakan mata hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak  akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
  • Pahami fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah Perkembangan, fitrah Seksualitas dan lainnya.
  • Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogikan diri kita dengan seorang petani organik.
  • Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
  • Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu artinya kita dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Sedangkan waktu dengan anak, kita dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana. Anaknya mainan sendiri, ibunya asyik online main hp #plak
  • Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena semua anak itu very limited special edition. Tidak ada anak yang diciptakan sama, semua anak itu unik, bahkan anak kembar sekalipun.

Mendidik itu bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, dan menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran? Lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca?






Memulai Proses Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Sebelum memulai menggali lebih dalam tentang fitrah anak-anak kita, saatnya untuk lebih mengenali diri sendiri dengan cara menemukan misi hidup dan misi keluarga. Dua misi ini yang nantinya akan menuntun kita untuk bisa mendidik anak secara fitrah. Dan inilah inti dari NHW #4 kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini.

Dibandingkan NHW - NHW sebelumnya, menurutku NHW #4 ini lebih mudah dikerjakan, karena para murid hanya diminta untuk melakukan review NHW #1, #2 dan #3. Namun pada prosesnya, NHW #4 ini membutuhkan konsistensi alias keistiqomahan dalam pelaksanaannya. Selain itu juga dibutuhkan momen pembersihan diri agar bisa menemukan kehendak Allah terhadap diri sehingga bisa merumuskan misi hidup dan misi keluarga.

Adapun rangkaian poin-poin dalam NHW #4 sebagai berikut;

a) Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

baca juga: NHW #1;  Adab Menuntut Ilmu

Di NHW #1 saat fokus pada adab menuntut ilmu dan diminta untuk memilih jurusan ilmu di universitas kehidupan, aku memilih untuk mempelajari jurusan ilmu tentang menjadi seorang Ibu yang beradab dan berilmu. Setelah aku membaca kembali catatanku mengenai ini dan melakukan review selama beberapa hari, aku yakin telah tepat memilih jurusan yang ingin aku pelajari.

Menjadi ibu memang alamiah dan natural, namun menjadi Ibu yang memiliki adab yang baik dan berilmu pula, sangatlah dibutuhkan segudang wawasan dan bekal yang cukup demi membantu anak-anak menemukan fitrahnya dan membangun peradaban dari dalam rumah. Apalagi dunia yang akan dihadapi anak-anak merupakan dunia yang berbeda; dunia yang lebih maju secara teknologi, namun turun drastis secara adab. Dunia yang dipenuhi dengan gadget, sosial-sosial media, channel-channel televisi yang bisa menjadi musuh mematikan jika tidak diatur sebaik mungkin. Karena alasan itulah aku tetap akan mempertahankan belajar mengenai hal-hal apa saja yang harus dikuasai untuk menjadi Ibu yang memiliki adab dan ilmu. Ibu yang tak sekedar menyandang gelar ibu karena telah mengandung dan melahirkan anak, namun sebenar-benarnya ibu yang menjadi guru pertama dan utama untuk anak-anak yang aku lahirkan, dan juga sebagai seorang ibu - pendamping ayah - yang akan menjadi teman dan rumah paling nyaman untuknya pulang. Dan tentu saja seorang ibu yang bisa merangkul lingkungan sekitarnya dan menebarkan manfaat meski hanya seujung kuku.

b) Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.


Well, mengikuti kelas matrikulasi ini, sangatlah menantang adrenalinku untuk tidak moody dan belajar mengikuti aturan yang telah aku tetapkan. Bagaimana aku bisa mengajak anak patuh pada aturan, kalau ibunya saja belum sanggup konsisten pada aturan yang dia buat? #selfreminder

Sebetulnya checklist yang aku susun untuk NHW #2 ini belum konsisten aku jalankan (banyak alasan memang yak, please jangan dicontoh). Selain aku ini orangnya moody-an ditambah lagi sekarang urusan domestik bertambah, so aku lagi atur waktu lagi niih. Memperbaiki jadwal aku lagi. Jadwal harianku berubah drastis semenjak si kecil lahir. Aku terlalu fokus padanya dan memang aku ingin mendampingi si kecil selama 24jam 7hari. Jadinya ada beberapa schedule yang telah dibuat belum terealisasikan.

Sebuah kebiasaan buruk yang harus segera aku tinggalkan. Namun bahwasanya hal ini adalah sarana untuk memantaskan diri agar menuju jurusan yang aku pilih, mau tidak mau, aku harus mau untuk merubah diri agar lebih teratur dan disiplin. Semoga checklist yang kubuat bisa membantuku untuk terus lebih baik dan lebih tangguh menghadapi tantangan hidup. Doakan aku yaaa sahabat biar lulus mencapai goal dari checklist tersebut, sehingga bisa semakin produktif, baik sebagai ibu dari anak-anak, sebagai istri dan sebagai seorang perempuan yang produktif.

c) Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.


NHW #3 sejauh ini aku sudah memiliki bayangan untuk apa Allah menciptakan aku sebagai diriku sendiri, Allah menciptakan aku sebagai seorang anak, seorang istri, seorang Ibu dan seorang individu bagi lingkunganku. Memang benar, Allah menciptakan segala sesuatu itu pasti memiliki tujuan. Allah-lah yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak. Saat mengerjakan NHW #3 ini, gejolak perasaan kian meletup - leptup. Yaa Allah.... sungguh besar kuasaMu atas kami umatMu, begitu cintanya diriMu kepada kami namun terkadang kami tak menangkap signal yang KAU berikan, kami kurang "IQRA" atas apa - apa yang KAU berikan. Yuupss... dalam menjalankan dan mengaplikasikan NHW #3, aku hanya perlu memperbanyak syukur dan memahami serta menjalankan apa maksudNya yang sudah dikehendakiNya kepadaku.

Aku jadi teringat pengalaman dan pembelajaran tentang keikhlasan dan keberserah dirian pada Allah. Ketika SMA, dimana masa remaja yang sangat indah pastinya, namun Allah menguji aku dengan memberikan nikmat sakit. Yaaa.. Aku di vonis dokter sebuah penyakit yang mengharuskan salah satu sel ovariumku diangkat. You know lah ya guys, apa fungsi sel ovarium dalam tubuh kita dan manfaat keberadaannya bagaimana. Bagi seorang wanita sel ovarium ini adalah sebuah organ terpenting karena berhubungan dengan masa depannya kelak. Coba deh bayangin, ketika di masa labil - labilnya aku, aku harus menerima kenyataan itu, shock pastilah aku, pikiran negatif dan sikap pesimis pun kerap menghantui aku. Namun, keluargaku terutama kedua orangtuaku, selalu menguatkan aku, menyuruhku mendekatkan diri dan berserah diri kepada Allah. Karena Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang kita tidak tahu.

"Apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata Allah dan apa yang menurut kita buruk belum tentu juga buruk di mata Allah"

Kalimat tersebut selalu menguatkan aku, sehingga aku dapat ikhlas dan mampu menjalani kehidupan dengan optimis. Alhamdulillah, benar saja, karena aku ikhlas dan hanya berserah diri kepada Allah, Allah mendengar do'a aku. Walau aku tak sempurna, walau hanya dengan satu ovarium, Allah Maha Baik, Allah telah memberikan amanah seorang putri yang aku kandung sendiri dari rahimku dan aku merasakan bagaimana perjuangannya menjadi seorang Ibu dari mulai mengandung samapai melahirkan. Aku pernah berbagi pengalaman ini dengan teman - temanku, terutama bagi teman- temanku yang sudah menikah namun belum Allah percayakan untuk menjadi seorang Ibu padahal mereka sempurna. Ovarium mereka pun lengkap. Aku pernah bilang, bahwasannya semua itu adalah kuasa Allah, berserahlah dan selalu memintalah hanya kepadaNya karena Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk setiap ummatNya.

Nah.. salah satu pengalaman tersebut membuat aku tersadar dan yakin, mengapa Allah memilih aku untuk menjadi anak dari orangtuaku, istri untuk suamiku, Ibu untuk anak - anakku dan teman untuk para sahabat - sahabatku. Aku pun menemukan misi dalam kehidupanku melalui segala perjalanan hidupku.

Misi Hidup : Menjadi seorang wanita dan Ibu yang memiliki ilmu dan beradab agar aku dapat mendidik anak - anakku menjadi generasi yang berilmu dan beradab
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator dan Fasilitator

d) Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Untuk bisa menjadi ahli sebagai seorang ibu yang berilmu dan beradab, khususnya di bidang Pendidikan Ibu dan Anak, Maka aku menetapkan  tahapan ilmu yang harus aku kuasai sebagai berikut:

1. Bunda Sayang : Sebagai dasar atas rangkaian tahapan sebagai ibu yang memiliki adab dan ilmu, aku merasa sangat penting untuk terus menambah ilmuku seputar pengasuhan anak (parenting), mengaji ilmu agama lebih dalam agar aku bisa memberikan bekal dan pondasi yang kuat untuk anak-anakku dan belajar untuk menjadi teman bermain yang mengasyikkan serta memfasilitasi anak-anak dengan alat-alat bermain yang mereka butuhkan sesuai tahapan usia. Aku juga tertarik sekali untuk lebih mendalami lagi mengenai ilmu psikologi agar lebih paham tentang memahami dan merespon perilaku anak, suami dan orang-orang di sekitar.

2. Bunda Cekatan : Selain memantaskan diri dengan belajar ilmu-ilmu di tahapan bunda sayang, aku juga membutuhkan ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga, antara lain mendalami lagi pelajaran memasak agar dapat membuat menu keluarga lebih variatif, belajar keuangan agar bisa mengatur cash flow keluarga dengan lebih baik, juga belajar beberapa life skill seperti menjahit, merajut, mengatur lemari pakaian. Life skill ini selain berguna untuk kehidupan di masa kini, juga sangat bermanfaat jika bisa diwariskan kepada anak-anak.

3. Bunda Produktif : Berkaitan dengan minat dan bakat yang aku tekuni yaitu dunia tulis menulis dan keinginan aku membuka jasa konsultasi untuk anak dan remaja, aku harus lebih banyak baca kembali buku - buku yang menunjang tulisanku, aku ingin melanjutkan sekolah keprofesianku, aku ingin belajar lebih banyak tentang blogging lebih banyak dan profesional, serta belajar menulis novel dan buku inspiratif pada ahlinya. Aku juga ingin belajar public speaking agar lebih baik dalam menyampaikan apa-apa yang aku pikirkan secara langsung kepada khalayak sehingga maksudku bisa ditangkap dengan baik. Selain itu aku juga merasa sangat penting belajar mengenai vlogging dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia digital lainnya demi meningkatkan kualitas konten blog aku.

4. Bunda Shaleha : Aku ingin belajar lebih banyak untuk bisa berperan secara aktif dan positif pada setiap komunitas yang aku ikuti. Aku juga ingin belajar menjadi event organizer agar bisa kembali mengadakan acara-acara parenting yang berkualitas dengan tim yang telah sevisi-misi denganku.

d) Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Walaupun aku baru menjadi seorang Ibu, ya baru tiga bulan dan menjadi seorang istri pun belum genap dua tahun, tetapi jika menjadi anggota masyarakat sudah berjalan selama duapuluh tujuh tahun. Meskipun demikian, aku merasa belum melakukan sesuatu yang berarti dalam kehidupanku Kadang menyesal, kenapa begitu terlambat aku memulai semua ini, namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Maka aku menetapkan hari ini sebagai KM 0 - ku. Di usia duapuluh tujuh tahun lebih tujuh bulan ini aku harus mampu berkomitmen untuk mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di bidang yang telah aku tentukan, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. 

Sejak hari ini aku akan berusaha setiap harinya akan mendedikasikan 8 jam waktu yang aku punya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, dan menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Semoga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, aku sudah bisa melihat hasil yang aku inginkan.

Berikut ini milestone yang aku tetapkan :
KM 0 – KM 1  (tahun 1 - usia 27 hingga 28) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang - bisa menjadi ibu, istri dan sahabat yang baik untuk anak-anak dan suamiku.
KM 1 – KM 2 (tahun 2 - usia 28 hingga 29) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan - bisa menjadi ibu yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.
KM 2 – KM 3 (tahun 3 - usia 29 hingga 30) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif - bisa menuju kemandirian finansial melalui bakat dan minatku; blog, menulis novel dan kisah inspiratif.
KM 3 – KM 4 (tahun 4 - usia 30 hingga 31) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha - bisa menyelenggarakan acara-acara seminar atau workshop parenting dengan biaya terjangkau/ tidak berbayar di daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang belum tersentuh parenting. 

Aku berharap sebelum usia 35 tahun, aku sudah bisa menjadi ibu yang bisa memahami dan mengarahkan fitrah anak-anaknya, sahabat yang baik untuk suamiku, mencapai posisi financial yang baik melalui minat dan bakatku serta bisa bermanfaat kepada orang lain lewat tulisan, daycare, jasa konsultasi terutama untuk anak dan remaja dan beberapa kegiatan yang aku impikan.

e) Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Setelah aku kembali membaca checklist-ku di NHW #2 aku sudah memasukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut, namun belum terlalu spesifik. Maka setelah checklist bulan ini aku review, aku akan memasukkan kembali poin-poin tersebut secara lebih spesifik. 

f) Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Apapun rencana, target dan checklist yang aku lakukan, tidaklah akan ada artinya ketika tiada konsistensi alias keistiqomahan dalam menjalankannya. Maka selain menggambar mimpi, aku perlu meluruskan niat dan memetakan langkah demi bisa menjalankan misi hidupku dan meraih cita-citaku. Aamiin.

Inilah saatnya kita membuat sejarah kita sendiri. Ini sejarahku, mana sejarahmu, guys?

See you next post guys and thank you for reading. Salam semangat membersamai anak menjadi generasi yang berilmu dan beradab !!! 

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Minggu, 11 Februari 2018

Surat Cinta Untuk Ainul (2)






Teruntuk kamu, lelakiku tersayang...

Jika Habibi memiliki Ainun
Aku pun memiliki Ainul
Jika Habibi begitu mencintai Ainun
Aku pun begitu mencintai Ainul
Do'aku, agar selalu bisa bersama Ainul
Layaknya kebersamaan Habibi dan Ainun

Sayang... sudah 18 bulan kita bersama - sama mengarungi perahu pernikahan. Ombak tenang dan ombak yang berguncang pun kerap menghatam perahu kita. Perahu kita sempat oleng di terpa badai permasalah. Namun, Allah sudah menyelematkan kita bahkan menambahkan penumpang dalam perahu kita. Putri cantik nan shalehah itu adalah hadiah Allah.

Sayang... Kamu tidak perlu bertanya sudah berapa banyak hati yang aku lalui sebelum berhenti di kamu. Berapa banyak tatap mata yang membuat aku merasa, “Ini akhirnya, aku siap menepi dan membangun masa depan bersama.” Atau sudah berapa banyak pintu yang aku putar kenopnya, melirik sedikit ke dalamnya kemudian memilih tidak memasukinya karena ternyata tidak nyaman terasa.

Namun dengan kamu, saat bertemu kamu, ada desiran kenyaman dalam hati serta keyakinan yang aku pun tak tau bagaimana bisa itu terjadi. Mungkin inilah jalan Allah yang sudah direncanakannya? Mungkin inilah seseorang yang Allah pilih untuk menjadi "Mata dan Cahaya" bagiku dan anak - anak kami dalam dunia? Pertanyaan itu yang selalu terpikirkan olehku.

Dalam keyakinan dan kebimbangan hatiku kepadamu, Allah-lah yang menjadi pengaduanku. Sujud shalatku dan lirihan do'a dalam qiyamul lail, terus berusah meyakinkanku akan dirimu. Sampai pada saatnya, aku benar - benar yakin ketika kamu dengan gentle mempertanggung jawabkan perasaanmu. Kamu datang kepada waliku untuk memintaku dengan baik. Dan itulah seharusnya yang memang agama ajarkan.

Aku melting yaaang saat itu. Aku menjadi sangat yakin ketika restu orangtuaku mengalir bersama do'a - do'a mereka. Dimata mereka pun kamu laki - laki yang baik dan mereka percaya bahwa kamu yang terbaik untuk anaknya, untuk cucunya.

Sayangku... Imamku... Ainul-ku... Aku tau, aku masih jauh dari istri yang sempurna dan masih terus selalu belajar untuk menjadi istri yang kau inginkan agar kau tak lagi tergoda oleh wanita lain selain aku, istrimu, istri halalmu. Saat ini, aku pun harus belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Tetapi untuk itu,  aku membutuhkanmu. Aku butuh bimbinganmu, aku butuh dukunganmu dan terpenting aku butuh do'a darimu.

Suamiku.... Pintu syurgaku... Tetaplah setia denganku, tetaplah dampingi kami, aku dan anakmu. Janganlah kamu mencoba memasuki orang lain dalam keluarga kita ya yaaang.. Sudah cukup, kekhilafanmu. Walau Allah menjanjikan syurga bila aku ikhlas namun bukan syurga itu yang aku rindukan.


Sayang... Biarkan hanya aku yang selalu mengecup mata lelahmu. Biarkan hanya aku yang mengusap sayang punggungmu. Membiarkanmu memanjat tubuh atau menggelitik pinggang demi menunjukkan rasa sayangmu. Biarkan hanya aku yang mendampingimu untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah warrahmah. Biarkan hanya aku yang menjadi tempat pulang ternyamanmu. 

Biarkan hanya aku yang menjadi rumahmu ketika kamu lelah di luar sana. Rumah bagi tawamu yang pecah karena bahagia. Rumah bagi dukamu saat mereka yang tak lagi bersamamu. Rumah bagi tanyamu ketika sudah tak ada lagi yang menjawabmu. Rumah bagi sakitmu ketika lukisan yang ternyata tak seindah bayangan.

Suamiku....  Saat ini, ruang pernikahan kita semakin ramai bukan? Ketika sudah ada si kecil yang menambah kebahagian. Dampingilah kami selalu karena kami sudah menemukan kenyaman berada dekat kamu. Biarkan kami selalu bersandar di bahumu ketika kami gundah dan peluklah kami dalam dekapan ternyamanmu.

Semoga Allah selalu menjaga rumah tangga kita, keluarga kita. Karena mulai saat ini kita harus selalu berjalan bergandengan untuk menjadi orang tua yang terbaik untuk buah cinta kita. Jaga selalu hati dan cinta kami yaa suamiku..


Sincerely yours,

Istri yang senantiasa mencintaimu

NHW#3 ; Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Asslamu'alaikum warohmatullahi wabarakatuh.....

Happy Friday pals.. sudah memasuki weekend lagi yaa.. Seperti biasa aku akan update NHW ku setiap weekend. Sebetulnya aku tak ingin mengerjakan ini mendekati deadline, namun apalah dayaku, baru saja buka laptop si bayi sudah meringik cari susu atau meringik ingin dikelonin bobonya. Ibu - ibu pastilah sudah tau, jika kita menyusui sambil tiduran dan kelonin ya kebablasan jugalah ya kita Ibunya, kan jadi enak.. hehehe...

Alhamdulillah dan tak terasa sekali, aku mengikuti kelas matrikulasi ini sudah hampir satu bulan berjalan. Tetapi rasanya masih butuh banyak sekali ilmu yang harus aku pelajari niih. Oya, setelah sebelumnya kita belajar tentang adab mencari ilmu dan langkah - langkah menjadi Ibu profesional, untuk materi di minggu ketiga ini kita akan membelajari bagaimana cara membangun peradaban dari dalam rumah. Kalian tahu bahwa rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak - anak. Oleh karena itu, sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Pemberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh - sungguh.





Pada materi ini aku dituntut untuk menggali lebih dalam mengenai diriku, pasanganku, keluargaku, anak-anakku serta lingkungan sekitarku. Dari proses inilah nantinya diharapkan aku menjadi lebih mengenal siapa aku dan apa tujuan Allah menghadirkan aku di muka bumi. Tentunya Allah menciptakan kita dengan maksud dan tujuan tertentu, secara garis besarnya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun masing-masing manusia pastinya diamanahi tujuan-tujuan spesifik di dalam hidupnya.

Selama ini aku pun seringkali menanyakan pada diri sendiri, mengapa aku dilahirkan, mengapa aku besar dari kedua orangtuaku, mengapa aku dipertemukan dengan suamiku, mengapa aku diamanahi Sheeva dan banyak pertanyaan mengapa lainnya. Namun aku masih kesusahan untuk mengumpulkan kepingan puzzle hingga membentuk sebuah gambaran utuh. Melalui materi ini, perlahan aku mulai bisa mengerucutkan apakah misi keluarga dan misi kehidupanku.

Berbeda dengan NHW - NHW sebelumnya, NHW#3 ini memiliki pertanyaan yang lebih spesifik untuk masing - masing peserta. Ada tiga kelompok peserta yang mendapat jenis pertanyaan, yakni; mereka yang belum menikah, yang sudah menikah dan mereka yang sedang berjuang menjadi single parent. Oleh karena aku masuk ke kelompok yang sudah menikah, maka inilah beberapa point yang harus aku renungkan dan cari jawabannya.



www.maritaningtyas.com

Merumuskan Misi Kehidupan dan Keluarga

Setelah aku dan suamiku menemukan potensi unik dari kami, kami pun berdiskusi merumuskan misi kehidupan dan keluarga kami.

Surat Cinta untuk Suami

Diawali dengan tugas pertama yaitu menuliskan surat cinta kepada suami. Duuh... tugas menukis surat cinta ini bikin revisit sweet memories kala pertama bertemu suami dan memilih dia untuk menjadi imam hidup aku. Sebetulnya, tugas ini dimaksudkan agar kami napak tilas mengapa dulu saling jatuh cinta dengan pasangan, dan bisa merasakan jatuh cinta lagi dan lagi kepada pasangan. Alhamdulillah, untuk urusan menulis surat cinta bukan hal yang sulit buat aku dan ini menjadi ajang curhat sama suami deh. Hehehe.. Maklum, aku tipe orang yang lebih suka menyatakan perasaan lewat tulisan daripada perkataan langsung.

Seingatku, terakhir kali kukirimkan surat cinta untuknya adalah beberapa bulan sebelum kami menikah. Tujuannya sih biar gak jenuh dan stress aja mempersiapkan pernikahan. Hehehe..

And, this is it.. surat cinta untuk suami; Surat Cinta Untuk Ainul(2)

Respon suami? Stay cool man.. Hahaaa... Padahal istrinya sudah berusaha merangkai kata yang indah, doi cuma senyum dan bilang "apa siih" hahaaa... Doi mah gitu orangnya tapi aku tetap cinta :p

Bagiku, menulis itu cara paling ampuh untuk berinstropeksi diri. Karena menulis melewati banyak proses berpikir, mengingat-ingat, dan menelaah. Ternyata sebagai istri banyak sekali yang belum aku penuhi.

Selama menulis surat itu, aku berpikir kembali mengapa kami dipertemukan, mengapa dia yang Allah pilihkan. Allahu Akbar, Allah memang tidak pernah salah menggariskan... dia hadir untuk melengkapi semua kekuranganku, dia hadir untuk membuatku belajar tentang penerimaan, kepercayaan, kesabaran, kemandirian, kesederhanaan dan banyak hal lainnya.

Dia mampu menjadi penyeimbang diriku yang agak egois dan tak sabaran. Dia mampu menjadi penyeimbang diriku yang terkadang terlalu manja dan kekanak - kanakan. Dia yang mampu mengajarkan aku untuk menikmati hidup dan selalu optimis. Ya, entah apa jadinya aku kalau bukan dia pasanganku.

Selesai menuliskan surat itu, aku cuma bisa kembali bersyukur telah dikaruniai pasangan yang sedemikian sabar dan dewasa. Tentu saja dia tidak sempurna, ada banyak kekurangan di dirinya, sebagaimana aku pun yang punya banyak kekurangan. Namun bukankah istri pakaian untuk suaminya, dan suami merupakan pakaian untuk istrinya?


www.maritaningtyas.com


Memahami dan menemukan jawaban kenapa Allah pertemukan kami semakin memperkuat aku, bahwasannya kami pasti dapat menjadi sebuah tim yang handal untuk menjadi partner hidup serta fasilitator terbaik bagi pendidikan anak - anak kami. Kami berharap pun akan menjadi panutan yang baik untuk mereka kelak, Insyaa Allah. Kami hanya perku lebih banyak saling berkomunikasi, bertukar pikiran, bermuhasabah dan konsisten terhadap apa yang kami ajarkan dan menjadi aturan dalam keluarga kami. Bismillah Yaa Allah.. Insyaa Allah 'till Jannah... Sehidup Sesyurga. Aamiin Allohumma Aamiin.....

Mengenal Anak

Aku adalah new mom, pengalaman menjadi Ibu belumlah expret. Anakku saja baru satu dan usianya pun baru 3 bulan. Pastilah banyak hal yang harus aku kenali mengenai anak aku dan pastinya aku akan mengenali dia berbagai hal dalam kehidupan ini.

Sheeva Mikayla Khairunnisa (Sheeva) - dilahirkan tiga bulan yang lalu. Alhamdulillah dilahirkan melalui persalinan normal. Sheeva adalah anak pertama sama kaya aku, mamahnya. Kalau ada yang bilang anak pertama itu istimewa, aku setuju. Kami menunggu kehadiran Sheeva setelah enam bulan usia pernikahan kami. Saat akhirnya bisa memeluk tubuh mungilnya, aku dan suami merasa lengkap. Bahkan dengan segala history penyakitku, kami saat itu ikhlas kalau memang Allah menunda untuk memberikan kami amanah yakni Sheeva.

Saat ini Sheeva sedang belajar miring dan tengkurap. Dia juga lagi senang mengenal orang lain selain Apih sama Maminya, mengenal warna dan suara. Sebagaimana nama yang kami sematkan padanya; Sheeva Mikayla Khairunnisa. Kami berharap ia tumbuh menjadi wanita yang cantik dan memposana baik hati maupun budi. Sheeva ini anak yang ramah, murah senyum dan manis budi. Jika di sapa orang ia akan memberikan senyuman termanisnya, tapi kalau lagi gak crunchy yaa.. hehhe..

Jika ditanya apa sih potensi yang sudah terlihat pada Sheeva? Belum terlalu terlihat karena Sheeva masih tiga bulan, jadi aku harus lebih mengenalnya. Namun, jika diperhatikan Sheeva ini senang sekali bermain air, jika sudah berada di air dia bisa anteng malah kalau diangkat dari air dia menangis. Mungkin dia mau jadi atlit renang yaa.. Do'akan yaaa pals. Aamiin Allohumma Aamiin..

Sheeva menurutku adalah anak yang disiplin, dia harus on time jika minta ASI. Sheeva juga selalu terukur waktu ngASI-nya. Waktu Sheeva baru lahir, aku tak pernah capek untuk membangunkan Sheeva seperdua jam karna dia akan bangun sendirinya. Namun dengan begitu aku harus tetap menfasilitator Sheeva untuk menggali potensi kelak. Karna pasti semakin bertumbuh usianya akan semakin terlihat potensi pada dirinya.

Dari  Sheeva aku belajar secara langsung bahwasanya anak-anak memang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Rasa ingin tahu, semangat belajar yang tinggi, bibit kemandirian, pintar, pantang menyerah, dan rajin karba bahwasanya mereka adalah makhluk Allah - semuanya sudah terinstall di dalam diri mereka. Sebenarnya aku dan Apihnya cuma tinggal menjaga fitrah, memfasilitasi dan mengarahkannya.

Aku percaya, anak-anakku dipercayakan kepadaku oleh Allah bukan tanpa sebab, Allah memilihku sebagai ibu dari Sheeva pasti ada alasan besar. Setidaknya aku tahu, akulah yang paling mengenal karakter anak-anakku dan bisa menjadi sahabat untuk mereka menemukan potensinya.

Mengenal Diri Sendiri


www.maritaningtyas.com

Jika aku ditanyakan "seberapa dekatkah kamu dengan dirimu?" Aku mah suka bingung jawabnya. Terkadang aku lebih mudah untuk menemukan kekuranganku dibanding dengan potensiku. Oleh karna itu, aku selalu tertarik belajar dan mendapat ilmu baru serta mengikuti komunitas seperti IIP ini. Kalau tidak karena IIP dan sampai tahap kelas matrikulasi yang sedang aku ikuti ini mungkin aku juga tidak berusaha tahu tentang potensi yang ku miliki.

Pada dasarnya aku suka membaca walau bacaannya itu novel kisah romantis gitu tapi aku juga sangat tertarik dengan ilmu-ilmu seperti psikologi, ilmu tentang bisnis, ilmu menjadi pengusaha. Karena aku lulusan sarjana psikologi, aku begitu tertarik untuk membuka jasa konseling. Karena menurutku, aku ini senang menjadi teman curhatnya teman - temanku. Namun untuk menggapai gelar psikolog aku haruslah kuliaj lagi selama dua tahun. Bukan aku tak mau, tetapi ketika sudah memiliki Sheeva aku ingi fokus terlebih dahulu menjadi seorang "Ibu" 

Aku orang yang sangat senang sekali jika aku dapat membantu orang sekitarku. Aku ini fleksibel dalam berbagai hal. Bekerja pun seperti itu. Aku bekerja dengan orang lain hayuk, kerja sendiri pun no problemo. Membaur dengan sekumpulan orang, hayuk. Akan tetapi, aku kurang begitu suka memulai pembicaraan terlebih dahulu, namun saat ada yang mengulurkan pertemanan, aku akan sangat antusias menyambutnya. Dan ketika sudah kenal dekat, aku bisa sangat hafal apa-apa saja kesukaan temanku, dan kapan ulang tahunnya serta aku akan sangat perhatian dengan dia. 

Aku suka mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka, entah itu teman sebayaku atau orang yang lebih tua dariku. Karna bagiku, aku dapat belajar banyak hal, juga belajar menyikapi bagaimana ketika masalah yang sama hadir dalam kehidupanku. Aku juga dengan senang hati memberikan solusi jika memang diminta.

I just love learning dan aku ini willingg to be lear n kalau dalam menyerap ilmu. Terutama jika itu bisa meningkatkan kualitas diriku. Aku tidak ingin berada di titik yang sama setiap harinya, aku haus belajar dan ingin bisa lebih baik lagi, dalam segala hal di kehidupanku. 

Ilmu itu akan menguap jika tidak diamalkan dan dibagikan. Oleh karenanya, apabila aku mendapatkan kesempatan untuk berbagi atas secuil ilmu atau informasi yang aku miliki, apalagi ilmu tersebut bermanfaat untuk sekitarku, aku akan senang sekali. Aku ini senang berorganisasi dan mengikuti segala kegiatan yang bermanfaat untuk sosialisasi diri sendiri.

Mengenal Lingkungan dan Komunitas

Sejak menikah 2016 lalu, aku diboyong suamiku untuk tinggal bersamanya. Kebetulan suami tinggal dan kerja di pulau Kalimantan, so aku harus pindah dan stay di sana. Aku harus kembali membuka jalan untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru padahal aku ini orang yang agak sulit berbaur dengan orang - orang baru.

Asing bagiku, banyak yang harus aku perbaiki dan pelajari dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekitarku. Aku kadang banyak down-nya karna orang baru disekitarku tak sesuai dengan harapanku. Namun aku nyaman karna di tempat tinggal baruku ini kemana-kemana dekat dan tak macet. Nah... Untuk mengisi kehampaan aku di lingkungan baru, aku mulai mengenal beberapa komunitas, diantaranya Rumbel Menulis dan Institut Ibu Profesional.

Aku mulai mempertanyakan maksud Allah mempertemukanku dengan teman-temanku saat ini, dan kontribusi apa yang bisa aku berikan kepada lingkungan tempat tinggalku. Ke depannya dengan jaringan pertemanan yang aku miliki, aku berharap dapat menularkan ilmu - ilmu yang aku pelajari, diantaranya ; parenting dan psikologi. Miris sekali jika melihat para remaja yangasih berseragam terlibat tauran, membolos sekolah bahkan sampai ada yang mabuk dan mengkonsumsi NARKOBA. Aku juga miris melihat anak-anak balita yang terkadang masih keluar rumah dengan baju minim dan perhiasan yang berlebihan, mengganti baju di luar rumah, menganggap anak-anak kecil berkelahi dan saling memukul itu wajar, remaja-remaja yang khusyuk dengan gadget dan game.

It takes a village to raise a child

Ya, membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Ketika orang tuanya agak cuek, masyarakat sekitar cuek, negara cuek, jangan heran kalau generasi muda negeri ini mulai terkikis iman, akhlak dan semangat belajarnya. Harus ada yang mau bergerak untuk perlahan membenahi, harus ada yang mau repot untuk mengurusi anak orang lain, karena sesungguhnya dengan mengurusi anak orang lain secara tidak langsung kita mengurusi anak-anak kita sendiri dengan membangunkan tempat bergaul yang ideal bagi mereka.

Bismillahirrahmanirrahim.. meskipun masih samar aku mulai menemukan apa misi kehidupan dan keluargaku di dunia ini. Semoga aku bisa menerjemahkan kehendak Allah dengan baik dan bisa membangun peradaban dari dalam rumah, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitar aku tinggal. Tentu saja dengan tujuan untuk menggapai ridho Allah SWT. Aamiin Allohumma Aamiin.


Alhamdulillah yaaa selesai juga NHW#3 ini. Walau dengan curhatan-curhatan ibu dastera. Ini, tetapi semoga saja bisa menjadi motivasi teman - teman juga untuk menemukan misi spesifik dalam keluarganya. Gimana guys, kapan kita curhat? Hehhee...

Wassalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.






Minggu, 04 Februari 2018

NHW #2 ; IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA





Assalamu'alaikum Wb. Wb.

Happy weekend bunda - bunda profesional nan shalehah kebanggaan keluarga.. Wauuuahhh.. sudah ketemu weekend lagi yaa, artinya sudah waktunya mengumpulkan NHW lagi niih.. hehehe... Aku baru bisa mengerjakan NHW itu setiap weekend karena kalau weekday full time mengurus buah hati, kan suami libur kerja di weekend jadi bisa gantian gitu deh jagain si bayi yang Alhamdulillah hari ini sudah memasuki 3 bulan. Time so fast yaaa.. sudah 3 bulan saja anak bayi menggemaskan itu bersama - sama dengan aku. Banyak sekali amazing moment yang sudah kami lewati selama ini, namun masih banyaklah moment - moment yang harus kami lewati setelah ini.

Kebetulan, materi perkuliahan online di IIP minggu ini adalah tentang "Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga". Ahhh.... aku ingin sekali menggapai predikat ini menjadi Ibu yang profesional kebanggaan keluarga. Ada beberpa sub materi yang dibahas untuk menjadi Ibu profesional dalam perkuliahan tersebut, diantaranya adalah ;

  • Apa itu Ibu profesional ?
  • Apa itu komunitas Ibu profresional ?
  • Bagaimana tahap - tahapan untuk menjadi Ibu profesional ?
  • Apa saja indikator keberhasilan Ibu profesional ?
Nah.. materi - materi tersebut adalah kunyahan yang sangat mengigit di minggu ini buat aku. Apa kalian setuju jika aku membahas materi - materi tersebut di sini? Mana dong suaranyaaa.... Setuju aja deh ya biar cepat :p
Baiklah sebelum aku membagikan pembahasan tentang NHW minggu kedua ini, aku akan membahas materi - materinya dulu yaa. Sudah siap menyimak dan memahami kan yaaa... let's read it !!!!

Apa itu Ibu Profesional ?

Apa yang terbesit dalam pikiran kalian membaca kata"Ibu profesioanal"? Apa sih Ibu profesional itu?
Baiklah, kita akan mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna ;1​) perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2) sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3)​ panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4)​ bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5)​ yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota. 
Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1)​ bersangkutan dengan profesi; 2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak, dan lain - lain. 


Berdasarkan dua makna tersebut di atas, seorang perempuan yang menyanding gelar IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik
Bagaimana para Ibu dan calon Ibu, sudah mendapat gambaran kan mengenai Ibu Profesional? Apakah kita sudah layak mendapat gelar "Ibu Profesional" ? Untuk lebih meyakinkan lagi dan memahami agar kita dapat menjadi Ibu Profesional yang membanggakan keluarga akan aku bahas lagi sub materi berikutnya.

Apa itu Komunitas Ibu Profesional ?

Seperti yang sudah aku perkenalkan di tulisanku minggu lalu mengenai komunitas Ibu Profesional, lalu mengapa aku mengikuti komunitas tersebut. Aku merasa belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja berjamaah itu lebih baik agar konsistensi dan semangat belajar bisa terjaga. Oleh karenanya aku mengikuti komunitas yang mewadahi para ibu professional, yakni sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Aku berterima kasih sekali karena ada forum pembelajaran seperti yang aku ikuti. Mungki itu juga kali ya yang melatar belakangi mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Selain memberikan wadah belajar untuk para perempuan agar dapat menjadi Ibu profesional, Ibu Septi Peni pun memiliki visi dan misi yang mendasari agar Institut Ibu Profesional dapat melangkah lebih terukur dan terarah. Visi dan misi yang dikemban oleh Institut Ibu Profesional adalah ;

www.maritaningtyas.com
MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  • .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
  • Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Bagaimana Tahapan- Tahapan dan Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu yang disematkan dengan predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, lalu bagaimana sih untuk mendapatkan predikat ibu profesional? Berikut adalah 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta indikator apa saja yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a) Bunda Sayang – merupakan tahapan pertama dimana seorang Ibu harus memperkaya dirinya dnegan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas sebagai Ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga dapat menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.


www.maritaningtyas.com


Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;
  • Apakah anak - anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
  • Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istri mendidik anak - anak sehingga keinginannya terlibat lebih dalam pendidikan anak semakin tinggi?
  • Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak - anak?

b) Bunda Cekatan – tahapan kedua dimana seorang Ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas sebagai Ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.


www.maritaningtyas.com


Indikator untuk mencapai tahap tersebut adalah ;
  • Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
  • Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai "kasir" keluarga sekarang menjadi "manager keuangan keluarga"
  • Berapa ilmu tentang manjemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?
c) Bunda Produktif – Untuk mencapai tahapan ketiga ini, yakni Ibu dikatakan Ibu produktif, maka penting bagi seorang Ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri Ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga Ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.


www.maritaningtyas.com



So, apakah kita sudah produktif untuk saat ini? Jika kita telah merasa bahwa kita telah produktif, mari kita check seberapa produktifkah diri kita saat ini?
  • Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
  • Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang du ranah minat dan bakat kita tersebut
  • Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
  • Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?
d) Bunda Shalehah - adalah tahapan tertinggi bagi seorang Ibu untuk dapat menjadi Ibu yang profesional kebanggan keluarga. Untuk mencapai tahapan tertinggi ini, seorang Ibu diharuskan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran Ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.



www.maritaningtyas.com


Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apakah kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;
  • Nilai - nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
  • Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
  • Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
  • Apakah kita merasa bahagian dengan program tersebut?
Menjadi Kebanggaan Keluargaku

Setelah mendapat dan mencoba mengunyah materi yang diberikan fasilitator dalam kelas minggu kedua ini, kami pun memulai berdiskusi. Diskusinya heboh sekali, kelihatan sekali excited para Ibu - Ibu dikelas tersebut yang ingin terus belajar untuk menjadi lebih baik sehingga dapat menjadi kebanggaan keluarganya. Nahh.... untuk dapat lebih memahami dan mencoba mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dari materi kelas tersebut, tibalah fasilitator memberikan NHW #2 yang sesuai denga tema. NHW kali ini cukup membuat aku agak cooling down karena diminta membuat "CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN" baik sebagai individu, istri dan Ibu. Duh....ini membutuhkan semedi yang kuat untuk menentukan indikatornya.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang tidak muluk-muluk dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau aku harus melakukan wawancara dengan suami seharusnya dengan anak juga sih namun kan anakku baru 3 bulan mana bisa diajak wawancara. Dari suami, aku perlu tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak, aku perlu membuat indikator apa yang akan aku lakukan sebagai Ibu agar anak aku bahagia. Karena anakku masih bayi jadi indikator yang nanti aku susun akan berbeda dari Ibu - Ibu yang sudah dapat mewawancari anaknya. Proses ini membuat aku menjadi tau bagaimana aku dimata suami dan bagaimana seharusnya aku untuk anakku. Jawaban dari suami sungguh membuat hati ini agak melting karena ternyata selama ini, suami sudah bahagia dengan aku yang apa adanya katanya...

Dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;
  • SPECIFIC (unik/detil)
  • MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
  • REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • TIMEBOND ( Berikan batas waktu)


www.maritaningtyas.com

Finally, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim aku memulai mengerjakan NHW #2 yaitu membuat checklist indikator dari hasil instropeksi diri dan wawancara suami serta bermain bersama si bayi. Sebetulnya membuat checklist ini adalah tantangan tersendiri untuk aku, dan sebuah pembelajaran agar aku dapat konsisten serta istiqomah dalam menjalankan indikator - indikator yang sudah dibuat demi mencapai tujuan yang diharapkan. Memang ya untuk menjadi sebuah kebanggaan itu memerlukan perjuangan, kerja keras juga konsistensi menjalankannya. Bismillah.. Let's do it and I can do it. Believe it!!!

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Saat mengerjakan NHW ini, aku merasa diriku sebagai seorang individu perlu sekali berbenah diri dan memperbaiki diri, untuk itu aku sebagai individu membuat sebuah indikator yang aku kaitan hubunganku sebagai individu dengan Allah SWT dan hubunganku sebagai individu dalam masyarakat. Berikut ini adalah indikator yang sudah aku susun ;

A.1. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa




Untuk menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, berikut adalah indikator yang dibuat ;
  1. Memperbaiki waktu shalat fardu
  2. Memperbaiki bacaan Al - qur'an dan meningkatkan waktu membaca Al - qur'an
  3. Merutinkan tilawah minimal satu lembar setiap habis shalat Fardu
  4. Merutinkan kembali shalat sunnah, antara lain ; rawatib, dhuha, hajat, tahajjud
  5. Mulai mengikuti kajian ilmu dan liqo
A.2. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat



Adapun indikatornya adalah ;
  1. Bersosialisasi dengan tetangga dan masyarakat sekitar
  2. Saling senyum dan sapa ketika bertemu dengan tetangga
  3. Mengikuti kegiatan yang diadakan di lingkungan tempat tinggal
  4. Jika menulis status di media sosial sebaiknya menuliskan sebuah informasi yang berbobot
  5. Mengkonsistenkan menulis blog apabila mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk dibagikan

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Untuk membuat checklist indikator ini aku harus melakukan obrolan bersama suami. Sebenarnya sih aku sudah menduga jawaban suami ketika aku tanya, pasti jawaban tak jauh seputar "jangan moody-an dan kurang - kurangi lah cemburu sama curiganya" aissh..... tebakan aku tak meleset sedikit pun. Apa yang menjadi jawaban suami ternyata sama persis dengan dugaan aku.. Hampura yaaang, aku hanyalah perempuan yang punya hati dan rasa sakit. Wajar atuhlah kalau cemburu mah da kamu kasep :p. Siti Aisya saja suka cemburu sama Nabi Muhammad SAW, ngelesnya aku kalau di nasehatin suami tentang sifat pencemburuku.. Ahahahaa.. Atuh da sekarang jamannya banyak pelakor yaaak. Suami hanya bisa berdecak heran. ahahaa..

Baiklah, berikut ini indikator profesionalisme perempuan sebagai seorang istri



  1. Lebih sabar dan dapat mengatur emosi
  2. Tidak moody-an
  3. Kurangi rasa cemburu dan curiga sama suami
  4. Dapat membagi waktu antara kewajiban sebagai istri dan Ibu
  5. Lebih banyak senyum daripada cemberut
  6. Be your self
C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Nah.. dalam membuat checklist indikator profesionalisme perempuan sebagai Ibu ini adalah sesuai dengan kondisi aku saat ini. Oleh karena, Sheeva masih berusia 3 bulan jadi jika diajak mengobrol pun hanya senyum sambil haoohaooo hakeeeng haaooo. Sheeva pasti mau Maminya selalu ada buat dia dan mengASIhi dia sampai dua tahun.

Ini adalah indikator profesionalisme perempuan ketika aku sebagai Ibu ;




  1. Memberikan ASI eksklusif hingga Sheeva berusia 2 tahun
  2. Lebih dapat mengontrol emosi
  3. Membantu Sheeva belajar memiringkan badan dan tengkurab
  4. Membacakan dogeng atau buku cerita kepada Sheeva
  5. Mengenalkan berbagai suara kepada Sheeva
  6. Mengenalkan berbagai warna kepada Sheeva
  7. Mengenalkan Sheeva anggota keluarga, terutama keluarga inti seperti; Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Om dan Tante

Karena Sheeva masih sangat membutuhkan peran aku sebagai Ibunya, aku berdiskusi dengan suami bahwa aku mungkin tak akan kembali ke ranah publik. Aku ingin membersamai Sheeva dalam tumbuh kembangnya, aku ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan setiap moment perkembangannya dan aku ingin menjadi orang pertama pula yang mengajarkan Sheeva berbagai hal terutama untuk pembelajaran agamanya. Aku teringat wejangan Bu Septi Peni bahwa "rejeki itu pasti, kemulianlah yang harus dicari"


Alhamdulillah selesai sudah NHW#2 ini. Semoga aku bisa konsisten dan istiqomah ya dalam menjalankan checklist aku ini minimal untuk satu bulan kedepan, dan semoga dapat melakukan continues improvement agar tercapai goal aku untuk menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Btw, apakah teman - teman juga punya standarisasi seperti ini? Jangan - jangan teman - teman sudah lebih jago dari aku niihh.. Coba yuuuk share di kolom komentar. Hatur nuhun ☺


Quote of the week :
" Bersungguh- sungguhlah di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik - Dodik Mariyanto"

Dia adalah Hadiah Tuhan

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ ﴿٤٩...