Minggu, 04 Februari 2018

NHW #2 ; IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA





Assalamu'alaikum Wb. Wb.

Happy weekend bunda - bunda profesional nan shalehah kebanggaan keluarga.. Wauuuahhh.. sudah ketemu weekend lagi yaa, artinya sudah waktunya mengumpulkan NHW lagi niih.. hehehe... Aku baru bisa mengerjakan NHW itu setiap weekend karena kalau weekday full time mengurus buah hati, kan suami libur kerja di weekend jadi bisa gantian gitu deh jagain si bayi yang Alhamdulillah hari ini sudah memasuki 3 bulan. Time so fast yaaa.. sudah 3 bulan saja anak bayi menggemaskan itu bersama - sama dengan aku. Banyak sekali amazing moment yang sudah kami lewati selama ini, namun masih banyaklah moment - moment yang harus kami lewati setelah ini.

Kebetulan, materi perkuliahan online di IIP minggu ini adalah tentang "Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga". Ahhh.... aku ingin sekali menggapai predikat ini menjadi Ibu yang profesional kebanggaan keluarga. Ada beberpa sub materi yang dibahas untuk menjadi Ibu profesional dalam perkuliahan tersebut, diantaranya adalah ;

  • Apa itu Ibu profesional ?
  • Apa itu komunitas Ibu profresional ?
  • Bagaimana tahap - tahapan untuk menjadi Ibu profesional ?
  • Apa saja indikator keberhasilan Ibu profesional ?
Nah.. materi - materi tersebut adalah kunyahan yang sangat mengigit di minggu ini buat aku. Apa kalian setuju jika aku membahas materi - materi tersebut di sini? Mana dong suaranyaaa.... Setuju aja deh ya biar cepat :p
Baiklah sebelum aku membagikan pembahasan tentang NHW minggu kedua ini, aku akan membahas materi - materinya dulu yaa. Sudah siap menyimak dan memahami kan yaaa... let's read it !!!!

Apa itu Ibu Profesional ?

Apa yang terbesit dalam pikiran kalian membaca kata"Ibu profesioanal"? Apa sih Ibu profesional itu?
Baiklah, kita akan mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna ;1​) perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2) sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3)​ panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4)​ bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5)​ yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota. 
Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1)​ bersangkutan dengan profesi; 2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak, dan lain - lain. 


Berdasarkan dua makna tersebut di atas, seorang perempuan yang menyanding gelar IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik
Bagaimana para Ibu dan calon Ibu, sudah mendapat gambaran kan mengenai Ibu Profesional? Apakah kita sudah layak mendapat gelar "Ibu Profesional" ? Untuk lebih meyakinkan lagi dan memahami agar kita dapat menjadi Ibu Profesional yang membanggakan keluarga akan aku bahas lagi sub materi berikutnya.

Apa itu Komunitas Ibu Profesional ?

Seperti yang sudah aku perkenalkan di tulisanku minggu lalu mengenai komunitas Ibu Profesional, lalu mengapa aku mengikuti komunitas tersebut. Aku merasa belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja berjamaah itu lebih baik agar konsistensi dan semangat belajar bisa terjaga. Oleh karenanya aku mengikuti komunitas yang mewadahi para ibu professional, yakni sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Aku berterima kasih sekali karena ada forum pembelajaran seperti yang aku ikuti. Mungki itu juga kali ya yang melatar belakangi mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Selain memberikan wadah belajar untuk para perempuan agar dapat menjadi Ibu profesional, Ibu Septi Peni pun memiliki visi dan misi yang mendasari agar Institut Ibu Profesional dapat melangkah lebih terukur dan terarah. Visi dan misi yang dikemban oleh Institut Ibu Profesional adalah ;

www.maritaningtyas.com
MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
  • Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
  • .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
  • Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Bagaimana Tahapan- Tahapan dan Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu yang disematkan dengan predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, lalu bagaimana sih untuk mendapatkan predikat ibu profesional? Berikut adalah 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta indikator apa saja yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a) Bunda Sayang – merupakan tahapan pertama dimana seorang Ibu harus memperkaya dirinya dnegan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas sebagai Ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga dapat menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.


www.maritaningtyas.com


Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;
  • Apakah anak - anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
  • Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istri mendidik anak - anak sehingga keinginannya terlibat lebih dalam pendidikan anak semakin tinggi?
  • Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak - anak?

b) Bunda Cekatan – tahapan kedua dimana seorang Ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas sebagai Ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.


www.maritaningtyas.com


Indikator untuk mencapai tahap tersebut adalah ;
  • Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
  • Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai "kasir" keluarga sekarang menjadi "manager keuangan keluarga"
  • Berapa ilmu tentang manjemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?
c) Bunda Produktif – Untuk mencapai tahapan ketiga ini, yakni Ibu dikatakan Ibu produktif, maka penting bagi seorang Ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri Ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga Ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.


www.maritaningtyas.com



So, apakah kita sudah produktif untuk saat ini? Jika kita telah merasa bahwa kita telah produktif, mari kita check seberapa produktifkah diri kita saat ini?
  • Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
  • Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang du ranah minat dan bakat kita tersebut
  • Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
  • Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?
d) Bunda Shalehah - adalah tahapan tertinggi bagi seorang Ibu untuk dapat menjadi Ibu yang profesional kebanggan keluarga. Untuk mencapai tahapan tertinggi ini, seorang Ibu diharuskan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran Ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.



www.maritaningtyas.com


Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apakah kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;
  • Nilai - nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
  • Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
  • Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
  • Apakah kita merasa bahagian dengan program tersebut?
Menjadi Kebanggaan Keluargaku

Setelah mendapat dan mencoba mengunyah materi yang diberikan fasilitator dalam kelas minggu kedua ini, kami pun memulai berdiskusi. Diskusinya heboh sekali, kelihatan sekali excited para Ibu - Ibu dikelas tersebut yang ingin terus belajar untuk menjadi lebih baik sehingga dapat menjadi kebanggaan keluarganya. Nahh.... untuk dapat lebih memahami dan mencoba mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dari materi kelas tersebut, tibalah fasilitator memberikan NHW #2 yang sesuai denga tema. NHW kali ini cukup membuat aku agak cooling down karena diminta membuat "CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN" baik sebagai individu, istri dan Ibu. Duh....ini membutuhkan semedi yang kuat untuk menentukan indikatornya.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang tidak muluk-muluk dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau aku harus melakukan wawancara dengan suami seharusnya dengan anak juga sih namun kan anakku baru 3 bulan mana bisa diajak wawancara. Dari suami, aku perlu tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak, aku perlu membuat indikator apa yang akan aku lakukan sebagai Ibu agar anak aku bahagia. Karena anakku masih bayi jadi indikator yang nanti aku susun akan berbeda dari Ibu - Ibu yang sudah dapat mewawancari anaknya. Proses ini membuat aku menjadi tau bagaimana aku dimata suami dan bagaimana seharusnya aku untuk anakku. Jawaban dari suami sungguh membuat hati ini agak melting karena ternyata selama ini, suami sudah bahagia dengan aku yang apa adanya katanya...

Dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;
  • SPECIFIC (unik/detil)
  • MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
  • REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • TIMEBOND ( Berikan batas waktu)


www.maritaningtyas.com

Finally, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim aku memulai mengerjakan NHW #2 yaitu membuat checklist indikator dari hasil instropeksi diri dan wawancara suami serta bermain bersama si bayi. Sebetulnya membuat checklist ini adalah tantangan tersendiri untuk aku, dan sebuah pembelajaran agar aku dapat konsisten serta istiqomah dalam menjalankan indikator - indikator yang sudah dibuat demi mencapai tujuan yang diharapkan. Memang ya untuk menjadi sebuah kebanggaan itu memerlukan perjuangan, kerja keras juga konsistensi menjalankannya. Bismillah.. Let's do it and I can do it. Believe it!!!

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Saat mengerjakan NHW ini, aku merasa diriku sebagai seorang individu perlu sekali berbenah diri dan memperbaiki diri, untuk itu aku sebagai individu membuat sebuah indikator yang aku kaitan hubunganku sebagai individu dengan Allah SWT dan hubunganku sebagai individu dalam masyarakat. Berikut ini adalah indikator yang sudah aku susun ;

A.1. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa




Untuk menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, berikut adalah indikator yang dibuat ;
  1. Memperbaiki waktu shalat fardu
  2. Memperbaiki bacaan Al - qur'an dan meningkatkan waktu membaca Al - qur'an
  3. Merutinkan tilawah minimal satu lembar setiap habis shalat Fardu
  4. Merutinkan kembali shalat sunnah, antara lain ; rawatib, dhuha, hajat, tahajjud
  5. Mulai mengikuti kajian ilmu dan liqo
A.2. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat



Adapun indikatornya adalah ;
  1. Bersosialisasi dengan tetangga dan masyarakat sekitar
  2. Saling senyum dan sapa ketika bertemu dengan tetangga
  3. Mengikuti kegiatan yang diadakan di lingkungan tempat tinggal
  4. Jika menulis status di media sosial sebaiknya menuliskan sebuah informasi yang berbobot
  5. Mengkonsistenkan menulis blog apabila mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk dibagikan

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Untuk membuat checklist indikator ini aku harus melakukan obrolan bersama suami. Sebenarnya sih aku sudah menduga jawaban suami ketika aku tanya, pasti jawaban tak jauh seputar "jangan moody-an dan kurang - kurangi lah cemburu sama curiganya" aissh..... tebakan aku tak meleset sedikit pun. Apa yang menjadi jawaban suami ternyata sama persis dengan dugaan aku.. Hampura yaaang, aku hanyalah perempuan yang punya hati dan rasa sakit. Wajar atuhlah kalau cemburu mah da kamu kasep :p. Siti Aisya saja suka cemburu sama Nabi Muhammad SAW, ngelesnya aku kalau di nasehatin suami tentang sifat pencemburuku.. Ahahahaa.. Atuh da sekarang jamannya banyak pelakor yaaak. Suami hanya bisa berdecak heran. ahahaa..

Baiklah, berikut ini indikator profesionalisme perempuan sebagai seorang istri



  1. Lebih sabar dan dapat mengatur emosi
  2. Tidak moody-an
  3. Kurangi rasa cemburu dan curiga sama suami
  4. Dapat membagi waktu antara kewajiban sebagai istri dan Ibu
  5. Lebih banyak senyum daripada cemberut
  6. Be your self
C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Nah.. dalam membuat checklist indikator profesionalisme perempuan sebagai Ibu ini adalah sesuai dengan kondisi aku saat ini. Oleh karena, Sheeva masih berusia 3 bulan jadi jika diajak mengobrol pun hanya senyum sambil haoohaooo hakeeeng haaooo. Sheeva pasti mau Maminya selalu ada buat dia dan mengASIhi dia sampai dua tahun.

Ini adalah indikator profesionalisme perempuan ketika aku sebagai Ibu ;




  1. Memberikan ASI eksklusif hingga Sheeva berusia 2 tahun
  2. Lebih dapat mengontrol emosi
  3. Membantu Sheeva belajar memiringkan badan dan tengkurab
  4. Membacakan dogeng atau buku cerita kepada Sheeva
  5. Mengenalkan berbagai suara kepada Sheeva
  6. Mengenalkan berbagai warna kepada Sheeva
  7. Mengenalkan Sheeva anggota keluarga, terutama keluarga inti seperti; Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Om dan Tante

Karena Sheeva masih sangat membutuhkan peran aku sebagai Ibunya, aku berdiskusi dengan suami bahwa aku mungkin tak akan kembali ke ranah publik. Aku ingin membersamai Sheeva dalam tumbuh kembangnya, aku ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan setiap moment perkembangannya dan aku ingin menjadi orang pertama pula yang mengajarkan Sheeva berbagai hal terutama untuk pembelajaran agamanya. Aku teringat wejangan Bu Septi Peni bahwa "rejeki itu pasti, kemulianlah yang harus dicari"


Alhamdulillah selesai sudah NHW#2 ini. Semoga aku bisa konsisten dan istiqomah ya dalam menjalankan checklist aku ini minimal untuk satu bulan kedepan, dan semoga dapat melakukan continues improvement agar tercapai goal aku untuk menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Btw, apakah teman - teman juga punya standarisasi seperti ini? Jangan - jangan teman - teman sudah lebih jago dari aku niihh.. Coba yuuuk share di kolom komentar. Hatur nuhun ☺


Quote of the week :
" Bersungguh- sungguhlah di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik - Dodik Mariyanto"

Minggu, 28 Januari 2018

NHW#1; ADAB MENUNTUT ILMU - IIP KALTIMRA BATCH 5


ADAB MENUNTUT ILMU
Assalamu’alaikum para Ibu shalehah kebanggaan keluarga….

Sudah lama rasanya tak menjamahi blog ini dengan tulisan yang tercurah dari hati. Maklum lah beberapa bulan ini di sibukkan dengan status baru sebagai “Ibu”. Alhamdulillah dipenghujung tahun lalu, Allah SWT telah menganugerahi aku putri cantik yang saat ini usianya sudah 2,5 bulan. Karena aku adalah newbie dalam dunia peribuan dan parenting, makanya masih suka keteteran antara kewajiban aku sebagai seorang Ibu dan istri dengan hobi menulis aku, ini saja masih curi – curi waktu, ketika si kecil lagi dalam gendongan Apihnya. 

Pengalaman yang baru menjadi seorang Ibu membuat perubahan yang signifikan dalam kehidupan aku. Namun, setelah aku tahu aku akan menjadi seorang Ibu, aku selalu mencoba untuk belajar dan bertanya serta sharing dengan mereka yang telah menjadi Ibu yang sesungguhnya. Banyak referensi yang aku cari hingga aku mengikuti sebuah komunitas untuk menjadi Ibu yang professional, ya aku mengikuti komunitas Institut Ibu Profesional, dimana harapan aku dalam komunitas tersebut aku dapat belajar, berbagi serta aku dapat mengamalkan apa yang aku dapatkan dari para Ibu professional dalam komunitas tersebut. Setelah aku berhasil mengikuti kelas foundation Institut Ibu Profesional, saat ini aku sedang mengikuti kelas matrikulasi. Dimana kelas matrikulasi ini kita diberikan materi dan pembelajaran setiap minggunya dan akan diberikan Nice Home Work (NHW) setiap minggunya pula. 

Nah, ini adalah NHW pertama dikelas matrikulasi batch 5 yang aku ikuti. NWH ini adalah penentuan akankah aku lulus kelas matrikulasi atau harus mengulang kembali di batch berikutnya. Untuk materi  NHW yang akan aku bahas di sini adalah “Adab Menuntut Ilmu”. Yuks.. mari kita belajar bersama!!!

Berkenalan dengan IIP dan Kelas Matrikulasi

Pasti kalian sudah pada tahu dan dengar ya tentang IIP? IIP adalah kependekan dari Institut Ibu Profesional yang didirikan oleh Bunda Septi Peni yang juga merupakan pembuatan Jarimatika. Bunda Septi tentu memiliki tujuan mendirikan sebuah institute bagi para Ibu yakni untuk meningkatkan kualitas kaum Ibu di Indonesia bahkan saat ini IIP sudah merajalela sampai dengan ASIA. Woow.. hebat yaa. Aku pun sangat interest pada saat tahu ada sebuah wadah menimba ilmu tentang bagaimana menjadi Ibu yang berkualitas.

Aku kenal dengan IIP melalui postingan teman aku, setelah melihat berbagai sumber informasi mengenai IIP ini, aku langsung memutuskan melakukan pendaftaran. Kebetulan saat aku kenal IIP, aku sedang hamil sekitar 7 bulan. Alhamdulillah, rezeki yang luar biasa nih lagi hamil, persiapan untuk menjadi Ibu baru yang belum berpengalaman, eh ketemu dengan IIP yang In Syaa Allah ilmu yang diberikan dapat aku pelajari dan aplikasikan. Memang sih waktu kuliah aku mendapatkan pembelajaran tentang parenting, tentang psikologi keluarga, psikologi anak, namun ilmu di bangku kuliah tersebut hanyalah ilmu untuk mahasiswa yang akan mendapatkan gelar sarjana. Aplikasinya tak semudah teorinya. Setelah aku dinyatakan hamil dan akan menjadi Ibu, ternyata ada banyak hal yang harus dipersiapkan , bukan hanya sekedar materi dan mental saja namun berbagai ilmu pun harus dipersiapkan.

Banyak yang  berkomentar “jadi ibu kan natural aja, alamiah ngak usah belajar juga nanti terbiasa sendiri”.  Iya sih memang, rasa keibuan itu alamiah, yakin setiap perempuan pasti memiliki sifat keibuan. Apalagi jika kita melihat baby di tangan kita, langsung tanpa diminta ada rasa hangat dan kasih sayang yang menjalar ke seluruh tubuh. Anak nangis, kita bisa tahu kalau dia lapar, haus, butuh susu atau dia sedang demam, tak enak badan, ingin digendong, dan lain sebagainya.  Tetapi, menjadi Ibu bukan hanya masalah itu semata, apalagi jaman sudah semakin berkembang, pastinya perlu pengembangan wawasan dan pengetahuan agar lebih up to date dalam menjawab tantangan jaman. Kita tau sendiri ya, kids zaman now ini lebih kritis dan selalu ingin tahu, bahasa gahulnya kepo everywhere, nah.. gimana coba kalau Ibunya ngak mau belajar, mau jadi apa anak – anak kita kelak.

Kan ada sekolah, pilihlah sekolah yang bagus, yang bonafid, yang paling mahal, selesai sudah. Ah.. masa iya sesederhana itu? Kayanya enggak deh. Bagaimana pun, kelak anak – anak kita akan selalu menjadi tanggung jawab orangtuanya, bahkan di akherat kelak, kita sebagai orang tua akan dimintai pertanggung jawabannya. Masa iya, jika kelak Allah bertanya, kita jawab “sudah kami serahkan kepada sekolah dan gurunya ya Allah, tanyakan saja pada mereka” ahhaaa… ishh… malu doong.

Awal memutuskan mengikuti IIP karena aku merasa aku sangat membutuhkan bekal ilmu untuk menjadi seorang ibu. Walaupun menjadi seorang Ibu adalah fitrah dan setiap perempuan pasti memiliki sifat keibuan, namun tetap saja aku membutuhkan kunyahan ilmu tersebut. Memang sih, bisa saja kita belajar menjadi Ibu dari Ibu kita sendiri, tetapi kita pun membutuhkan teman – teman dan fasilitator untuk sharing tentang dunia peribuan, terutama tentang dunia peribuan di era digital saat ini. Sebagaimana motivasi aku mengikuti IIP ini adalah learning, sharing, doing. Aku berharap setelah aku mendapatkan pembelajaran dari perkuliahan ini,  aku dapat membagikan ilmu yang aku miliki dan dapat melakukan serta mengaplikasikan ilmu yang telah aku dapat. Dengan ilmu tersebut, aku pun berharap kualitas diriku akan meningkat baik sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat. Ada banyak kurikulum yang akan dipelajari di IIP ini, antara lain ; Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Shalihah.

Akan tetapi, untuk dapat menikmati ilmu – ilmu tersebut, aku harus dan wajib mengikuti kelas matrikulasi, dan Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk mengikuti kelas matrikulasi di batch 5 ini. Oiya, untuk dapat mengikuti kelas matrikulasi ini, kita diwajibkan mendaftarkan diri secara online dengan biaya Rp. 100.000,- dan ini adalah investasi seumur hidup. Perkuliahan secara online hanya melalui whatsapp, alasan kuat aku ingin menjadi bagian dari IIP. Hanya modal kuota dan aplikasi whatsapp kita akan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Cocok banget kan buat ibu – ibu kaya aku khususnya yang belum bisa melalang buana karena si bayi masih bayi :p

Kenapa sih harus kelas matrikulasi? Sebenarnya, sebelum memasuki kelas matrikulasi, kita diperkenalkan tentang IIP melalui kelas foundation. Nah, kelas matrikulasi ini diadakan biar kita paham dulu tentang materi – materi yang akan diajarkan agar bisa sejalan dengan visi misi yang dikemban oleh IIP. Jadi, saat kita masuk kelas berikutnya, ngak kaget – kaget banget gitu.

Perkuliahan Matrikulasi Minggu #1 : Adab Menuntut Ilmu

Sebelum mendapatkan pembelajaran yang spesifik tentang menjadi Ibu professional, kami para ibu hebat kelas matrikulasi disuguhkan dulu sebuah prolog mengenai adab menuntut ilmu. Pada pembahasan materi yang diberikan, kita diingatkan untuk tidak terlalu buru – buru fokus pada suatu ilmu sebelum kita memahami mengenai adab – adab dalam menuntut ilmu. Seperti pada sentilan kata yang diberikan dalam materi tersebut “barang siapa yang menimba ilmu karena semata – mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya. Namun, barang siapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya

“Karena ILMU adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU”

Wuuah… kalau sudah begini, jadi ingat zaman sekolah dan kuliah dulu yaa. Zaman menuntut ilmu dulu kadang suka menyepelekan adab mdari menuntut ilmu tersebut. Yang aku pahami dan menjadi prinsipku dalam menuntut ilmu dibangku sekolah itu mendapatkan nilai yang bagus apapun caranya yang penting nilai bagus. Walau aku suka bolos (upss.. semoga mamah sama bapak gak baca ini ya), suka telat, suka gak perhatiin dosen, yang penting aku dapat nilai bagus. Ckckckck.. please.. don’t try it !!!

Padahal seperti yang sudah dituliskan diatas ya, dalam menuntut ilmu itu bukanlah hasil yang menjadi tujuan utama, tetapi hasil adalah bonus dari sebuah proses pencapaian ilmu yang kita jalani. Oleh karenanya, dalam proses mencari ilmu, kita haruslah mencari dengan cara – cara yang baik, semisal ; dating tepat waktu, menghormati para guru, tidak belagu atau sok pintar walaupun kita sudah memahami dan mendapatkan materi tersebut sebelumnya. Ada baiknya kita mengosongkan gelas kita agar dapat menambah kedalaman materi yang kita miliki dan dapat pula menampung ilmu lainnya yang belum kita dapatkan.

Harapan aku setelah mengerti tentang adab menuntut ilmu adalah aku akan menjadi jauh lebih baik dalam menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu – ilmu yang aku miliki baik untuk diri sendiri, keluarga dan juga sesama. In Syaa Allah, jika seorang istri dan ibu memiliki adab dan berilmu, maka akan melahirkan keluarga serta generasi penerus yang memiliki ilmu dengan peradaban yang baik.

Setelah belajar dan berdiskusi mengenai materi pertama, tibalah gemuruh suara para Ibu di kelas matrikulasi mempertanyai tentang NWH #1 yang diberikan fasilitator. Dan taraaaaa……. Ada empat pertanyaan yang harus dijawab. Kalian mau tahu kah jawaban NWH versi aku? Bismillah… berikut adalah jawabanku

Pertanyaan Pertama : Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini !

Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman yang begitu signifikan sehingga pola pikir pun harus terus berkembang, terutama semenjak aku menikah dan memiliki putrid. Tentu saja visi dan misi hidupku berubah secara total. Saat aku masih single, belum memiliki tanggung jawab yang besar, aku hanya memikirkan goal duniawi. Lulus kuliah, aku ingin berkarir dan mengaplikasikan ilmu perkuliahanku hanya di dunia pekerjaan untuk menopang karirku. Namun, tak demikian ketika aku mengandung Sheeva hingga Sheeva lahir, tujuanku hidupku berubah seketika. Dalam benak dan pikiranku, aku memikirkan bagaimana caranya aku mendidik, mengasuh, membersamai dan menumbuhkembangkan anak – anakku kelak agar selalu sejalan dengan Al – Qur’an dan Al – hadist tetapi juga dapat tetap mengikuti perkembangan jaman. Oleh karenanya, jikalau aku disuruh memilih, aku ingin mengambil jurusan ilmu tentang IBU YANG BERILMU DAN BERADAB.

Saat aku kuliah pun bahkan jikalau aku mengambil kuliah kembali di universitas bonafid sekalipun, jurusan ilmu tersebut tidak aku temukan, namun lewat universitas kehidupan, aku yakin akan ada banyak cara mencapai jurusan yang aku inginkan. Semoga saja aku bisa lulus membanggakan dari jurusan yang aku pilih ini.

Pertanyaan kedua : Alasan terkuat yang dimiliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

Alasan terkuat sudah pasti anak – anak dan suami. Keluarga adalah alasan terkuat kenapa aku ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik. Saat ini, aku memang telah menjadi Ibu, namun ilmuku untuk menjadi Ibu yang memiliki ilmu yang beradab masih sangatlah jauh. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Aku sadar diri, sebagai Ibu yang masih belum berpengalaman dan jauh dari sempurna, masih memiliki gelas yang kosong dan butuh banyak sekali untuk diisi. Sedangkan anak – anakku akan semakin bertumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Mereka akan sangat membutuhkan Ibu yang dapat membersamai mereka, menjawab segala pertanyaan mereka serta mengarahkan mereka pada kehidupan yang lebih baik dan menjadikan mereka anak – anak yang berilmu dan beradab. Jikalau aku tak memiliki ilmu dan adab bagaimana bisa aku mewarisi mereka kehidupan yang terbaik.
Aku tak ingin hanya mengikuti perubahan jaman, aku tak ingin patah semangat dan terima nasib tanpa ikhtiar. Melalui inilah ikhtiarku ; terus mencari dan menggali ilmu dari berbagai sumber. Demi mereka, demi anak – anakku, demi keluargaku, demi bangsaku, demi agamaku dan demi negaraku.

Pertanyaan ketiga : Mengenai strategi menuntut ilmu yang direncankan dalam bidang yang ditekuni

Menurutku, menjadi Ibu yang berilmu dan beradab adalah seorang wanita yang mampu mengemban tugasnya dengan baik  sebagi seorang istri dan ibu serta Ibu yang dapat mengantarkan anaknya menjadi seseorang yang berilmu dan memiliki adab yang berkualitas. Seorang wanita yang harus tahu akan segala hal, seorang wanita yang dapat melakukan segala hal, seorang wanita yang dapat memaksimalkan perannya, tanggung jawabnya, kapasitas dan kapabilitas dirinya. Aku tak hanya ingin menjadi Ibu yang sekedar nyaman untuk anak - anakku, namun aku ingin menjadi Ibu yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, yang dapat menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan anak - anakku. Aku ingin pula bertumbuh menjadi istri yang lebih baik untuk suamiku. Lebih mengharagai, menghormati dan memberikan kenyamanan untuk suamiku dari segala peluh kesahnya. Aku ingin menjadi "rumah" yang nyaman untuk mereka pulang dan berkeluh kesah, yang selalu dirindukan olehnya.Serta aku ingin menjadi wanita yang bermanfaat dalam masyarakat.

Untuk mencapai goals tersebut, maka aku membutuhkan strategi yang aku rencanakan ;

1. Memperdalam Ilmu Keagamaan 

Agama adalah pondasi utama dalam kehidupan. Tanpa pondasi tersebut bagaimana aku dapat membangun sebuah kehidupan kelak. Aku menyadari bekal agamaku sangatlah minim, makanya itu aku selalu mencari dan belajar agama dari berbagai sumber. Baik melalui kajian keagamaan ataupun lebih banyak membaca tentaang segala ilmu keagamaan sesuai dengan keyakinan yang aku anut.

2. Belajar Ilmu Psikologi dan Parenting

Mempelajari ilmu psikologi dan parenting sudahlah hatam selama 4 tahun di bangku perkuliahan. Namun, saat aku mengalami kehidupan sesungguhnya menjadi seorang Ibu, aku sadar aku harus lebih banyak lagi memahami dan mengaplikasikan ilmu - ilmu psikologi dan parenting yang telah aku pelajari di bangku perkuliahan.Selain aku membuka lagi buku - buku psikologi dan parenting yang aku miliki, aku juga berkonsultasi dengan beberapa rekan yang kebetulan mereka telah menjadi seorang psikolog. Berdiskusi dengan mereka membuatku lebih membuka diri dan memahami kebutuhan akan diriku untuk menjadi apa yang aku harapkan.

3. Public Speaking

Aku adalah tipe orang tak suka banyak bicara dan tak berani mengeluarkan pendapat di muka umum. Aku hanya berani menuliskan pendapatku dalam sebuah tulisan tangan. Namun, aku menyadari demi bisa membagikan apa yang aku tahu dan apa yang menjadi pendapatku haruslah seimbang. Dalam hal ini adalah tak hanya melalui tulisan namun aku perlu juga tampil di depan public untuk membagikan apa yang aku tahu dan ide apa yang ada dalam pikiranku.

4. Memiliki Pengetahuan Digital

Perubahan dari masa ke masa mengharuskan kita untuk terus meng-upgrade diri dan pengetahuan. Tak hayal di era digital saat ini, memang kehidupan kita dipermudah oleh teknologi namun jika kita tak membekali diri dengan pengetahuan yang baik tentang dunia digital, maka bersiaplah dunia digital akan merusak kehidupan kita bahkan kehidupan masa depan anak - anak kita. 

5. Networking

Memperluas pertemanan sangatlah penting. Seperti halnya aku saat ini, aku bergabung di IIP Kaltimra (Kalimantan Timur dan Utara) selain untuk menambah wawasan ilmu, aku pun bertujuan untuk menambah teman dan saudara yang memiliki visi dan misi yang sejalan dalam belajar untuk menjadi Ibu yang berkualitas bagi anak - anak dan keluarganya. Bagiku, belajar sendiri tidaklah mudah, kita perlu teman untuk sahring bahkan untuk mengkoreksi kita jikalau ada hal yang belum kita pahami. Teman itu dapat mengingatkan kita dalam kebaikan dan kesabaran. So, perbanyaklah berteman dan taburkan kebaikan dimana pun karena suatu saat nanti kita akan menuainya.

6. Time Management

Aku sadar dalam urusan mengatuir waktu, aku ini sering kali keteteran. Apalgi saat ini, setelah putri pertama lahir, haruslah aku merubah semua jadwal harianku. Aku yang saat itu masih berdua saja dengan suami, masih suka keteteran membagi waktu apalgi ini sudah ada anak, aku harus ekstra mengatur waktu. Aku masih harus terus belajar tentang kekonsistenan dan mengatur emosiku yang suka moody-an. Apalagi saat menjadi seorang Ibu, aku tidaklah boleh egois, aku harus meredam moody-ku demi tujuan aku menjadi seorang Ibu yang berilmu dan beradab. Aku harus dapat membagi waktu antara aku dan bayi-ku, antara aku dan suamiku, antara aku dan hobi membaca dan menulisku serta antara aku dengan perkuliahanku di IIP.

Sejauh ini ke-6 strategi itulah yang terpikirkan dalam rencanaku untuk mencapai tujuan utamaku sebagai Ibu yang berilmu dan beradab.

Pertanyaan terakhir : berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang harus aku perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Aku sangat menyadari sejauh ini adab menuntut ilmuku masihlah sangat perlu diperbaiki. Aku masih suka on off saat mengikuti perkuliahan online, menyepelekan materi, tidak melakukan resume materi yang diberikan dengan baik dan kadang suka tak memperhatikan apa yang disampaikan. Karena itu, aku sangat perlu memperbaiki diri agar aku dapat menjadikan ilmu yang kudapatkan menjadi cahaya kemanfaatan. Perubahna yang perlu aku lakukan, yakni ;

1. Memperbaiki waktu

Sebisa mungkin aku meluangkan waktu untuk menyimak materi perkuliahan online yang sedang aku ikuti saat ini, bahkan aku harus lebih aktif lagi dalam perkuliahan tersebut.

2. Resume Materi

Melakukan resume materi yang seharusnya aku lakukan tak pernah aku lakukan, namun saat ini aku akan berusaha untuk meresume setiap materi yang diberikan dari perkuliahan online yang sedang aku ikuti.

3. Menambah waktu membaca

Membaca adalah bagian dari kehidupan aku. Namun, saat ini aku selalu keteteran untuk menyelesaikan bacaanku. Aku berharap, mulai saat ini aku akan memperbaiki waktu membacaku.

Hufthhh.... Alhamdulillah kelar juga nih NWH#1 nya. Semoga apa yang aku tuliskan ini bisa menjadi pembelajaran untuk para teman - teman pembaca yaaa.. Mohon maaf jika kurang detail penjelasan dari tulisan aku ini, maklum lah banyak jeda karna harus mengASIhi si bayi cantik. Oke, see you next week yaaa guys. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



Salam Ibu Pembelajar Hebat





Jumat, 13 Oktober 2017

Friday Hope

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Wuahh.. sudah memasuki Jum'at lagi ya pals, aku selalu senang jika Jum'at tiba karena sudah mendekati weekend dan itu tandanya kita akan punya waktu untuk bersama keluarga. Tapi itu dulu guys, ketika aku masih bekerja sebagai pegawai kantoran, kalau sekarang sih ya tiap hari sama saja dan waktuku sudah full di rumah bersama keluarga. So aku tetap bersyukur dengan Jum'at kali ini sih karena kebetulan hari ini, bertepatan dengan tanggal lahirnya My beloved husband. Ahh.. Thank's God It's Friday.

Jum'at hari ini langit Cikarang agak galau deh, pagi tadi agak mendung dan siang harinya matahari mulai terik. Memang ya cuaca saat ini sedang tak menentu, so keep your healthy ya pals. Jaga pola makan dan olahraganya biar tetap sehat di cuaca yang sedang tak menentu.

By the way, challenge di hari terakhir dari Rumbel menulis IIP Kaltimra hari ini adalah "harapan". Bicara harapan tentu banyak sekali ya harapan yang kita miliki. Pastilah setiap orang memiliki sebuah harapan dalam kehidupannya. Apa harapan kalian? Bagaimana harapan kalian hari ini? Sudah tercapai kah? Atau masih dalam bentuk do'a - do'a yang dipanjatkan?


theodyseyonline.com

Harapanku... Sebenarnya sudah selalu aku panjatkan dalam lirihan do'a setiap sujud dan dalam keheningan. Aku selalu menulis segala harapan yang aku ingin atau aku selalu menyampaikan apa yang menjadi harapanku. Sudah banyak harapan yang aku lantunkan dalam do'a dan tuliskan dikabulkanNya. Alhamdulillah... aku bersyukur tentunya walau tak banyak juga harapanku yang belum diwujudkanNya, tapi aku selalu yakin bahwa apa yang menjadi harapanku dan aku lantukan dalam do'aku, pasti akan diwujudkanNya, begitulah aku meyakini setiap harapanku yang memang belum terwujud.

Pernahkah harapan yang diinginkan tak sesuai kenyataan? Aku pernah dan aku alami ini. Sebelum menikah, aku adalah seorang wanita yang berkarir dalam dunia perkantoran dan aku menikmati itu. Selain ilmu dalam perkuliahan tersalurkan pastinya kita bangga bahwa setelah lulus kuliah kita mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapan kita. Aku sangat bersyukur, di usia muda dan dalam dunia pekerjaan yang masih baru, karirku sudah bisa melonjak cepat dan pastinya aku mendapatkan income yang jauh lebih tinggi, aku juga merasakan jabatan yang tinggi untuk level usiaku. Pastilah itu suatu kebanggan untukku. Saat itu aku selalu berharap, aku bisa menjadi lebih baik, karir pun lebih baik dari sebelumnya. Income aku terus meningkat dan memiliki jabatan di level yang tinggi. Sejalan kah harapan aku yang lalu dengan saat ini? Aku bilang belum karena apa? Karena saat ini harapan aku untuk berkarir dalam dunia pekerjaan di kantoran memang tak berlanjut. Setelah menikah aku harus mengikuti suamiku untuk tinggal dan menetap di tanah kelahirannya yakni pulau Kalimantan. Otomatis, aku harus meninggalkan semuanya yang sudah aku capai di tanah kelahiranku. Aku harus mengikhlasnya, aku resign dari pekerjaan, meninggalkan keluarga, teman dan segala harapanku yang sudah aku pupuk di tanah kelahiranku. Lantas seperti apa setelah aku tinggal di pulau yang berbeda? Bagaimana dengan harapan yang sudah aku pupuk di tanah kelahiran?
Ya, walau sudah berbeda lokasi tinggal, pastilah aku masih memiliki harapan. Harapan yang sama saat aku sebelum menikah dan harapan yang aku miliki juga saat sudah menikah.

Pada saat sudah menikah, pastilah bertambah pula yang menjadi harapan. Begitupun dengan aku. Walau bagaimanapun aku masih selalu rindu dengan hiruk pikuk nya deadline pekerjaan, atmosfir kerjasama dalam team, stress dengan laporan tahunan. Tapi saat ini aku pun begitu menikmati peranan menjadi Ibu Rumah Tangga yang full time. Memang menjadi Ibu Rumah Tangga tidaklah muda bagiku saat ini, karena bagiku belum terbiasa, walau begitu aku selalu bersyukur atas segala jalan yang diberikan Tuhan padaku. Dengan menjadi Ibu Rumah Tangga, aku bisa sepenuhnya menjaga keluarga dalam rumahku. Memastikan suamiku selalu berpakaian rapih, mendapatkan makanan yang sehat dan gizi yang seimbang dan aku selalu ada di saat suami pergi dan pulang kerja. Memberikan senyum sebagai obat kelelahannya. Belum lagi nanti saat buah hatiku sudah lahir, pastilah tugas dan tanggung jawabku akan bertambah. Lagi - lagi aku mensyukuri hal itu, dengan peran baruku yaitu menjadi Ibu. Karena saat ini aku masih full time di rumah, aku berharap aku dapat selalu membersamai anak - anak aku, melihat setiap perkembangan dan pertumbuhannya, menjadi orang pertama yang mengajarkan segala hal dan selalu mendampingi setiap tumbuh kembangnya.

Ternyata tugasku menjadi Ibu Rumah Tangga itu subhanallah banget ya, gajinya dan reward-nya kecupan sayang suami dan kado terindahnya anak - anak bertumbuh dan berkembang dengan didikan yang baik yang selalu kita berikan dan dampingi. Ini pastilah menjadi harapan yang terpanjat dalam  do'a - do'a aku saat ini.

Bismillah.... Karena Jum'at ini adalah hari baik, aku awali harapan di Jum'at baik ini dengan membaca surat Al - Kahfi sebagaimana sunnah yang dianjurkan untuk memulai amalan di hari Jum'at. Aku gantungkan harapan ini setinggi - tingginya pada sang Maha Pengabul setiap do'a dan harapan hambaNya. Harapan yang terdekat yang ingin segera dikabulkan olehNya adalah aku segera dipertemukan dengan calon buah hatiku yang masih dalam kandungan. Proses persalinannya nanti dipermudah dan dilancarkan. Kami semua diberikan kesehatan, keselamatan tak kurang satu apapun. Aamiin...

Harapan aku yang lain adalah aku dapat menjadi pribadi yang baik dengan segala suratan takdirNya, aku akan menjalankan peranku saat ini sebagaimana aku menjalani peranku sebelum ini. Semoga melalui pembelajar dan penulisan harapan ini, semua bisa di ridhaiNya dan berjalan sesuai dengan rencana serta harapan dalam do'a - do'aku...

Friday Hope.....

Jum'atku..... aku sudah tuliskan segala harapanku pada hari ini
Kamu pasti selalu tau apa yang tertulis
Aku tuliskan segala harapanku bersama lantuna Al - Kahfi
Al - Kahfi yang selalu menemanimu Jum'atku...

Aku tau, terkadang harapan tak sesuai kenyataan
Tapi aku yakin Tuhan lebih tau dari aku
Makanya itu aku tak pernah khawatir
Aku tetap berharap
Harapan yang selalu aku leburkan dalam do'a - do'a

Jum'atku..... Tuhan selalu bilang
Kau adalah hari baik
Hari terbaik dari segala hari
Makanya itu aku panjatkan segala harap
Segala do'a padamu, haii.. Jum'atku...

Terima kasih Jum'atku....
Hari ini kau memberiku kesempatan
Untuk mengutarakan segala do'a dan harapan
Aku selalu percaya
Tuhan bersama prasangka hambaNya...



#onedayonestatus
#day21
#belajarmenulis
#IIPKaltimra

Kamis, 12 Oktober 2017

Hati - Hati !! Berbelanja Menimbulkan Perilaku Konsumtif

Hallo pals, hari ini adalah hari ke-20 nih challenge Rumbel menulis IIP Kaltimra, wuah gak terasa yaa sudah mau selesai niih challenge untuk One Day One Status-nya, next challenge apa lagi ya yang menantang adrenalin? Untuk tema kali ini adalah tentang "belanja". Apa belanja? Yupss.. kan jadi pengen shopping ya kalau harus nulis tema ini. Hehehe... 😉

Belanja? Apa sih yang kalian pikirkan tentang belanja? Apa yang harus kita lakukan jika kita akan berbelanja? Belanja adalah sebuah transaksi antara konsumen dan produsen, itu menurut saya. Setiap harinya pastilah kita membutuhkan sesuatu yang harus kita beli dan kita akan membeli sesuatu yang kita perlukan itu to? Nah proses itulah yang dinamakan dengan belanja. Sebetulnya apakah benar kita berbelanja untuk memenuhi kebutuhan primer kita? Atau hanya memenuhi kebutuhan gaya hidup kita?


Saya rasa, kita ini berbelanja untuk memenuhi kebutuhan primer kita itu memang pastilah setiap hari namun jika kebutuhan primer kita sudah terpenuhi pun pastilah kita akan melakukan perbelanjaan lagi. Apalagi di zaman era digital saat ini, apa yang kita mau dan inginkan bisa terpenuhi hanya dengan hitungan menit dan hanya menggunakan jarinya. Luaaar biasaa...

Namun yang sangat disayangkan, kegiatan belanja pada masyarakat kita ini sebagian besar adalah karena gaya hidup dan pengaruh dari budaya barat, karena sejatinya masyarakat Indonesia yang notabene adalah masyarakat timur, mereka pastilah akan bijak dalam menggunakan uangnya dan menjaga perekonomiannya, apalagi perekonomian Indonesia saat ini yang sedang morat - marit. Pada pembahasan kali ini, saya jadi teringat akan pelajaran waktu kuliah tentang perilaku konsumtif masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh gaya hidup. Loh kok malah bahas perilaku konsumtif, kan temanya belanja? Karena shopping atau belanja adalah termasuk perilaku konsumtif. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, memang gaya hidup sangatlah berpengaruh terhadap perilaku konsumtif seseorang. Ya itu tadi yang sudah saya bilang, ternyata budaya barat yang masuk ke negara - negara budaya timur termasuk Indonesia sering kali menetap lama dan pada akhirnya bercampur menjadi bagian dari budaya timur itu sendiri. Hal ini dapat disebabkan karena filter dari masing-masing individu masyarakat Indonesia yang kurang dipergunakan dengan maksimal, sehingga mereka menerima budaya-budaya barat tersebut secara mentah. Padahal, belum tentu budaya barat yang dianggap modern itu sesuai dengan etika maupun norma yang berlaku di Indonesia. Salah satu budaya yang secara turun-temurun dan secara tidak sadar bertahan di Indonesia adalah budaya konsumtif. Memang budaya ini tidak bisa dikatakan dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, tetapi setidaknya mayoritas masyarakat yang tergolong madani dan bermukim di kawasan perkotaan berperilaku demikian. 

Dinamika masyarakat yang terjadi semenjak era orde lama, orde baru, reformasi, hingga sekarang cukup memengaruhi sifat dan karakteristik masyarakat. Faktor yang memengaruhinya juga beragam, bisa dari segi perkembangan zaman secara global, keadaan bangsa (kekuasaan pemerintah, dan sebagainya), hingga keadaan alam pada saat itu. Yang paling terlihat di era globalisasi ini adalah bagaimana mudahnya bangsa kita menyerap perilaku konsumtif dari bangsa-bangsa lain. Proses penyerapan perilaku ini bisa dipermudah dengan banyaknya media global yang ‘menyerbu’, seperti film, acara televisi, buku, majalah, internet, dan sebagainya. Keinginan seseorang untuk tampil sama dengan apa yang dilihatnya di media tersebut mendorong sifat konsumtifnya, sehingga meski kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia hingga saat ini belum bisa disebut mapan, orang-orang yang memiliki sifat konsumtif tetap membeli apapun yang diinginkan tanpa memerhatikan kondisi keuangannya.

Budaya konsumtif yang mendarah daging khususnya di Indonesia pada saat ini bisa jadi merupakan dampak jangka panjang dari kebiasaan-kebiasaan hedonistik yang dimiliki oleh generasi sebelum kita, atau mungkin juga terjadi akibat kurangnya rasa peduli sebagian besar masyarakat terhadap akibat negatif yang ditimbulkan dari budaya tersebut. Dampak negatif dari mendarah dagingnya budaya konsumtif bisa dikatakan bercabang dan ikut mempengaruhi aspek-aspek lain dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai gambaran, jika seorang remaja telah memiliki tabiat konsumtif, maka ia akan terus menerus berkeinginan untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Untuk memenuhi keinginannya, orang tua harus mengeluarkan biaya ekstra yang tidak sedikit. Biaya ekstra ini berdampak pada kalkulasi pengeluaran bulanan sang ibu yang sebenarnya telah diperhitungkan sejak jauh hari. Bisa jadi, kebutuhan pokok mereka malah tidak terpenuhi. Akibatnya sang ayah pun harus bekerja lebih keras dalam mencari nafkah. Bahkan tak jarang ibu terpaksa ikut bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan pokok. Karena pekerjaan ibu yang menyita waktu, urusan rumah pun jadi tidak terpegang sehingga ayah dan anak-anaknya sering kali pulang dengan disambut oleh keadaan rumah yang tidak nyaman. Kehadiran ibu yang biasanya selalu siap mendengarkan cerita keseharian suami dan anak-anaknya pun dirindukan karena sang ibu terlalu lelah setelah seharian bekerja. Keharmonisan rumah tangga berkurang, dan pada akhirnya masalah-masalah lain bermunculan. Akar dari semua permasalahan tersebut hanya satu yakni sifat konsumtif.


reslfoodplating.blogspot.com

Hubungan antara perilaku konsumtif yang membudaya dan dampaknya terhadap perekonomian merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Budaya konsumtif dalam suatu masyarakat dapat menjadi penyebab perekonomian masyarakat tersebut memburuk, dan sebaliknya, perekonomian yang baik (atau bahkan sangat baik) di kalangan menengah ke atas dapat memicu perilaku konsumtif dalam kelompok masyarakat tersebut. 

Sebetulnya perilaku konsumtif yang dialami oleh sebagian masyarakat kita ini adalah dipengaruhi oleh gaya hidup. Coba kita introspeksi diri kita, benarkan kita sudah membelanjakan uang kita sesuai dengan kebutuhan? Atau kita lebih mementingkan gaya hidup sehingga kita berperilaku konsumtif? Gaya hidup konsumtif kita ini sebenarnya dipengaruhi beberapa faktor, misalnya konformitas atau ikut - ikutan orang.


pendidikanekonomi.com

Berbelanja (shopping) sebetulnya adalah budaya konsumtif yang paling sering kita temui di kehidupan sehari-hari yang menggelayuti berbagai kalangan. Di kalangan menengah ke bawah, budaya konsumtif paling sering terlihat di saat momen Hari Raya Lebaran. Bagaimanapun keadaan ekonomi mereka saat itu, kegiatan berbelanja pakaian baru bagi seluruh anggota keluarga nampaknya telah menjadi suatu keharusan. Mereka merasa seperti ada yang kurang bila tidak mengenakan segala sesuatu yang baru di hari raya.


hype.idntime.com

Tidak kalah dengan kalangan menengah ke bawah, kalangan menengah ke atas pun memiliki budaya konsumtif dalam bentuk yang berbeda. Kalangan ini lebih senang membelanjakan uangnya pada tempat yang sedang tren. Sebagai contoh, baru - baru ini, brand sepatu ternama yakni Nike mengadakan sale besar - besar di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Secara massive para pengunjung pusat-pusat hiburan di mana toko tersebut berada, mereka akan berbelanja dan memanjakan matanya di sana. Antrian yang mengular di depan pintu toko tersebut dan sampai penuh sesak menarik perhatian pengunjung mall yang lewat, meninggalkan kesan bahwa toko tersebut memang berkualitas bagus atau kebetulan sedang sale. Siapa yang tidak tahu kan harga sepatu Nike yang original jika tidak sale? Padahal, sebagian besar orang yang mengantre merupakan ‘konsumen dadakan’ yang mungkin bahkan belum menyiapkan dana untuk berbelanja. Hanya didasari oleh fenomena konformitas ditambah dengan perilaku konsumtif dari diri masing-masing, sebagian besar pengunjung mall tertarik untuk ikut berbelanja di toko tersebut.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut dapat kita lihat bagaimana budaya konsumtif secara perlahan tapi pasti menjelma menjadi salah satu ciri khas masyarakat di Indonesia di era globalisasi ini. Terlepas dari issue perekonomian di Indonesia, seperti naiknya harga BBM dan mahalnya harga sembako, masyarakat sepertinya selalu mempunyai dana untuk memenuhi nafsu belanjanya. Di satu sisi mereka menolak kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM, tetapi di sisi lain mereka tetap bisa menghabiskan uang mereka untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan.

Perilaku konsumtif yang mewabah di Indonesia baik di kalangan menengah ke bawah maupun kalangan menengah ke atas lambat laun berubah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Gaya hidup ini kemudian menuntun masyarakat kepada tumbuhnya budaya konsumtif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya budaya konsumtif antara lain lingkungan sosial (fenomena konformitas), ketidakmampuan menyesuaikan diri, brand awareness yang mencakup loyalitas merek, serta strategi perluasan merek yang dilakukan oleh perusahaan atau produsen. Budaya konsumtif jika terus menerus menggelayuti masyarakat Indonesia di berbagai kalangan, maka lama-kelamaan akan menjadi salah satu ciri masyarakat Indonesia. Kita sebagai bagian dari generasi penerus sudah sepatutnya menyikapi fenomena ini dengan baik. Menyikapi budaya konsumtif bisa dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi berkunjung ke pusat perbelanjaan serta menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat.



Sumber referensi ;
Loudon, David L. dan Albert J. Della Bitta. 1993. Consumer Behavior : Concepts and     Applications Volume 1, 4th ed. New York : McGraw Hill Education.
Masyita, Adlina. 2015. Budaya Konsumtif di Indonesia. adlinamasyita.wordpress.com
Sumber gambar ;
Tertera pada caption di bawah gambar



#onedayonestatus
#day20
#belajarmenulis
#IIPKaltimra


Selasa, 10 Oktober 2017

Mood Booster Ibu Hamil Menjelang Waktu Persalinan


theodysseyonline.com

Sudah banyak yang tau lah ya, setiap harinya kita akan mengalami perubahaan perasaan atau yang biasa disebut dengan perubahan mood. Terkadang good mood malah terkadang bad mood, apalagi wanita nih ya gampang labil, perubahan mood itu bisa dirasakan dalam hitungan jam bahkan menit mungkin. Betul girls ?? Terutama wanita nih pasti ada masa dimana mood itu cepat berubah misal ketika menjelang haid, sedang haid, pasca haid dan bagi wanita hamil perubahan mood ini pun sungguh melekat ya.. Ya begitulah jadi wanita, kalau mood-nya sudah jelek nabrak tembok aja, tembok yang minta maaf.

Mood disini adalah perpanjangan dari emosi yang berlangsung selama beberapa waktu, kadang-kadang beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan, dalam beberapa kasus depresi beberapa bulan. Mood yang dialami dalam kehidupan manusia ini sedikit banyak akan berpengaruh kuat terhadap cara mereka dalam berinteraksi. Mood adalah kondisi perasaan yang terus ada dan mewarnai kehidupan psikologis kita. Perasaan sedih atau depresi bukanlah yang abnormal dalam konteks peristiwa atau situasi yang penuh tekanan. Namun, orang dengan gangguan mood atau yang sering dikenali sebagai gangguan perasaan biasanya terlarut dalam suasana perasaannya dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggung jawab secara normal. Mereka yang mengalami gangguan mood ini akan mengalami perubahan mood yang ekstrem, bagaikan roller coaster emosional dengan ketinggian yang membuat pusing dan turunan yang bukan kepalang ketika dunia disekitarnya tetap stabil.

Kalian tau pals, jika kita menuruti mood kita atau membiarkan saja diri kita dikuasai mood maka kita akan mengalami gangguan mood. Seperti penjelasan diatas, gangguan mood akan berlarut dalam jangka waktu yang cukup lama dan akan mengganggu kemampuan kita untuk memenuhi tanggung jawab kita secara normal. Untuk itu, jika kita mengalami perubahan mood pastilah kita akan merasa sangat terganggu kan? Lalu kita melakukan berbagai cara untuk mengendalikan bahkan mengembalikan mood kita seperti sedia kala. Biasanya kita akan melakukan hal - hal yang menyenangkan atau melakukan hobi kita bahkan ada yang melakukan travelling, wisata kuliner atau apapun yang menyenangkan dan mengembalikan mood kita. Anak muda zaman sekarang sih biasa menyebut mood booster atau sesuatu hal yang dapat mengembalikan mood kita seperti sedia kala atau tetap menjaga mood kita dengan baik.


hidupseimbangku.com

Tulisan saya kali ini, akan membahas tentang mood booster yang sangat dibutuhkan oleh Ibu hamil terutama menjelang waktu persalinan yang sudah dekat. Terbayangkan dong oleh kalian, bagaimana kondisi mood Ibu hamil terutama Ibu hamil ini lagi H2C (harap - harap cemas) menjelang waktu persalinan yang sudah dekat. Pada saat hamil saja mood-nya sudah gampang berubah apalagi menjelang persalinan ya terutama untuk Ibu hamil yang baru pertama kalinya akan menghadapi proses persalinan. Kenapa sih saya membahas mood booster bagi Ibu hamil yang waktu persalinannya sudah dekat? Kenapa tidak wanita sedang haid atau apa gitu? Ya, karena saat ini, hal itu yang sedang saya rasakan. Bisa sekalian juga kan ini mood booster buat saya biar gak tegang - tegang banget gitu.

Seperti yang sudah kita tahu pada fase akhir ibu hamil atau trimester akhir kehamilan ini ditandai dengan adanya produksi hormon kehamilan atau HCG. Ibu hamil akan tampak memiliki wajah yang halus dan lebih kencang. Bahkan beberapa ibu hamil mengalami produksi cairan vagina yang berubah, payudara yang semakin nyeri dan kencang. Pada tingkat emosional yang semakin tinggi akan menimbulkan jerawat pada wajah. Dengan perubahan fisik dan psikis yang semakin berubah pada saat ibu hamil memasuki trimester ketiga biasanya Ibu hamil seringkali merasakan kesulitan beraktivitas, merasa terhambat dan lelah, lebih cemas, bahkan lebih mudah emosi. Biasanya pada trimester akhir ini Ibu hamil cenderung mengalami mood swing. Hal ini karena Ibu akan mengalami penambahan beban yang berat dan cenderung ke depan dan mengalami beban perut. Kondisi ini yang membuat ibu tidak nyaman sehingga kebanyakan ibu pada usia kehamilan 9 bulan banyak diam dan mengalami kebosanan atau kejenuhan.

Akibat jenuh dan bosan karena aktivitas sudah mulai terbatas bahkan karena perubahan fisik banyak juga Ibu hamil di trimester akhir ini mengalami rasa kurang percaya diri, lebih cemas, dan hal tersebut sangat mempengaruhi kondisi perasaan dan mood - nya. Ibu hamil bisa lebih moody dan mereka terkadang bisa nangis atau tertawa dalam waktu yang berdekat. Serem yaaa... Tapi ya itulah adanya, saya pun mengalami hal seperti itu, sebenarnya sudah tidak sabar ingin langsung proses persalinan. Nah, ketika saya mengalami mood swing biasanya saya melakukan hal - hal yang menyenangkan menurut saya dan itu dapat menjadi mood booster untuk saya.

Apa saja hal yang dapat dilakukan untuk menjadi mood booster pada Ibu hamil jelang waktu persalinan ?

  • Shopping perlengkapan baby
fototyassjulian.blogspot.co.id

Wanita kalau diajak shopping sih mood booster banget ya? Bukan cuma untuk Ibu hamil yang lagi H2C aja kan? Tapi mempersiapkan segala perlengakapan si kecil menimbulkan rasa tersendiri. Perasaan lebih senang dan pasti mood akan baik karena kita akan menyambut buah hati kita sebentar lagi. Kita bisa tata ruangan tidur untuk si kecil sesuai dengan konsep yang kita inginkan. Percaya deh bun, itu sangat menyenangkan dan mood booster banget
  • Berkunjung ke rumah teman
Wuahh.. kebetulan semenjak menikah, saya ikut hijrah bersama suami saya. Saya harus tinggal bersama suami saya dan saya harus meninggalkan keluarga, sahabat dan kerabat saya. Dan kebetulan juga, saya memutuskan untuk melakukan persalinan di kampung orang tua saya, tempat dimana saya dilahirkan juga, karena menurut saya jika saya melahirkan tidak dekat orang tua, tidak enak rasanya. Apalagi ini adalah pengalam pertama saya menjadi calon ibu dan pengalaman pertama juga untuk merasakan proses melahirkan. Selama saya, tinggal di rumah orang tua saya, saya menjadi lebih dekat dengan keluarga dan teman - teman saya. Nah.. kalau saya jenuh dan bosan di rumah karena tidak aktifitas, saya biasanya mengunjungi teman saya yang kebutulan juga tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal orang tua saya. Kami banyak menghabiskan waktu, mengobrol dan bertukar pengalaman, bagaimana cara menghadapi proses persalinan. Itu akan lebih menjaga mood kita dari segala ke BT-an dengan aktifitas dan dari segala ketegangan yang melanda diri.
  • Melakukan yoga kehamilan

mobile.fourlook.com

Salah satu yang menyenangkan dan memberikan manfaat untuk persiapan persalinan adalah dengan melakukan latihan yoga. Yoga akan membantu dalam bernafas dan rileks. Teknik yoga yang dirancang untuk ibu hamil dapat membantu mempersiapkan diri menjelang persalinan. Dengan yoga akan membuat ampuh dan melancarkan proses persalinan dan meningkatkan stamina. Biasanya saya melakukan yoga seminggu sekali itu dipandu oleh bidan, namun saya akan melakukan di rumah minimal 2 hari sekali. Ya, itu membantu membuat rileks pikiran kita.
  • Quality time dengan suami
Kebetulan saya LDMR (Long Distance Marriage Relationship) dengan suami. Suami saya tinggal di pulau Kalimantan karena memang harus bekerja sedangkan saya semenjak memasuki usia kandungan 6 bulan sudah terbang ke rumah orang tua saya. Biasanya suami mengunjungi saya 1 bulan sekali, nah ketika suami pulang saya pasti akan menghabiskan waktu sama berdua saja dengan suami saya. Misal kami menonton film kesukaan kami atau wisata kuliner atau kami hanya menghabiskan waktu mengobrol dengan segala kegiatan kami. Pokoknya bertemu suami dan menghabiskan waktu bersamanya adalah mood booster terampuh buat saya.
  • Memanjakan diri

fatfit.net

Memanjakan diri ini butuh banget loh bun ketika kita menjelang persalinan karena ya bun, selama kehamilan dari trimester awal sampai trimester kedua saya sih merasa untuk merawat diri tidak ada waktu bun. Kebetulan di trimester ketiga ini dimana waktu persalinan sudah hampir mendekati due date nya, dan waktu kita sudah banyak untuk aktifitas di rumah, gak ada salahnya bun memanjakan diri misalanya berendam air hangat dalam bath up dengan aroma terapi terus setelahnya minum segelas coklat hangat. Luar biasa bun, mood akan kembali baik dalam sekejap segala ketegangan pikiran hilang terhempaskan. Patut di coba bun. Gak perlu ke salon bun, di rumah aja cukup sudah bun.

Beberapa cara diatas adalah mood booster saya ketika saya sedang bad mood atau sedang jenuh dan cemas akan menghadapi proses persalinan. Kebutulan bun, due date persalinan saya sudah sangat dekat sekitar seminggu atau dua minggu lagi, nah cara - cara diatas sungguh sangat ampuh bagi saya mengembalikan dan mengendalikan mood saya. Jika bunda - bunda ingin mencoba mempraktekan cara diatas untuk dijadikan mood booster silahkan saja bun, ini baik sekali untuk mengatasi segala perasaan yang mengharu biru menghadapi persalinan. 

Biarkan diri kita yang mengendalikan segala mood dan pikiran kita, jangan biarkan mood dan pikiran yang mengendalikan diri kita. Menemukan mood booster itu tak perlu berkaitan dengan materi, apa yang menjadi kesenangan kita, lakukan !!!


notsalmon.com

By the way, mohon do'anya ya bunda - bunda dan para pembaca blog saya. Agar proses persalinan saya berjalan lancar dan dimudahkan. Saya dan bayi saya sehat terus, selamat dan tak kurang satu apapun. Aamiin Allohumma Aamiin. Terima kasih sudah mendo'akan 🙏🙏



#onedayonestatus
#day19
#belajarmenulis
#IIPKaltimra

Dia adalah Hadiah Tuhan

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ ﴿٤٩...