Kamis, 12 Oktober 2017

Hati - Hati !! Berbelanja Menimbulkan Perilaku Konsumtif

Hallo pals, hari ini adalah hari ke-20 nih challenge Rumbel menulis IIP Kaltimra, wuah gak terasa yaa sudah mau selesai niih challenge untuk One Day One Status-nya, next challenge apa lagi ya yang menantang adrenalin? Untuk tema kali ini adalah tentang "belanja". Apa belanja? Yupss.. kan jadi pengen shopping ya kalau harus nulis tema ini. Hehehe... 😉

Belanja? Apa sih yang kalian pikirkan tentang belanja? Apa yang harus kita lakukan jika kita akan berbelanja? Belanja adalah sebuah transaksi antara konsumen dan produsen, itu menurut saya. Setiap harinya pastilah kita membutuhkan sesuatu yang harus kita beli dan kita akan membeli sesuatu yang kita perlukan itu to? Nah proses itulah yang dinamakan dengan belanja. Sebetulnya apakah benar kita berbelanja untuk memenuhi kebutuhan primer kita? Atau hanya memenuhi kebutuhan gaya hidup kita?


Saya rasa, kita ini berbelanja untuk memenuhi kebutuhan primer kita itu memang pastilah setiap hari namun jika kebutuhan primer kita sudah terpenuhi pun pastilah kita akan melakukan perbelanjaan lagi. Apalagi di zaman era digital saat ini, apa yang kita mau dan inginkan bisa terpenuhi hanya dengan hitungan menit dan hanya menggunakan jarinya. Luaaar biasaa...

Namun yang sangat disayangkan, kegiatan belanja pada masyarakat kita ini sebagian besar adalah karena gaya hidup dan pengaruh dari budaya barat, karena sejatinya masyarakat Indonesia yang notabene adalah masyarakat timur, mereka pastilah akan bijak dalam menggunakan uangnya dan menjaga perekonomiannya, apalagi perekonomian Indonesia saat ini yang sedang morat - marit. Pada pembahasan kali ini, saya jadi teringat akan pelajaran waktu kuliah tentang perilaku konsumtif masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh gaya hidup. Loh kok malah bahas perilaku konsumtif, kan temanya belanja? Karena shopping atau belanja adalah termasuk perilaku konsumtif. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, memang gaya hidup sangatlah berpengaruh terhadap perilaku konsumtif seseorang. Ya itu tadi yang sudah saya bilang, ternyata budaya barat yang masuk ke negara - negara budaya timur termasuk Indonesia sering kali menetap lama dan pada akhirnya bercampur menjadi bagian dari budaya timur itu sendiri. Hal ini dapat disebabkan karena filter dari masing-masing individu masyarakat Indonesia yang kurang dipergunakan dengan maksimal, sehingga mereka menerima budaya-budaya barat tersebut secara mentah. Padahal, belum tentu budaya barat yang dianggap modern itu sesuai dengan etika maupun norma yang berlaku di Indonesia. Salah satu budaya yang secara turun-temurun dan secara tidak sadar bertahan di Indonesia adalah budaya konsumtif. Memang budaya ini tidak bisa dikatakan dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, tetapi setidaknya mayoritas masyarakat yang tergolong madani dan bermukim di kawasan perkotaan berperilaku demikian. 

Dinamika masyarakat yang terjadi semenjak era orde lama, orde baru, reformasi, hingga sekarang cukup memengaruhi sifat dan karakteristik masyarakat. Faktor yang memengaruhinya juga beragam, bisa dari segi perkembangan zaman secara global, keadaan bangsa (kekuasaan pemerintah, dan sebagainya), hingga keadaan alam pada saat itu. Yang paling terlihat di era globalisasi ini adalah bagaimana mudahnya bangsa kita menyerap perilaku konsumtif dari bangsa-bangsa lain. Proses penyerapan perilaku ini bisa dipermudah dengan banyaknya media global yang ‘menyerbu’, seperti film, acara televisi, buku, majalah, internet, dan sebagainya. Keinginan seseorang untuk tampil sama dengan apa yang dilihatnya di media tersebut mendorong sifat konsumtifnya, sehingga meski kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia hingga saat ini belum bisa disebut mapan, orang-orang yang memiliki sifat konsumtif tetap membeli apapun yang diinginkan tanpa memerhatikan kondisi keuangannya.

Budaya konsumtif yang mendarah daging khususnya di Indonesia pada saat ini bisa jadi merupakan dampak jangka panjang dari kebiasaan-kebiasaan hedonistik yang dimiliki oleh generasi sebelum kita, atau mungkin juga terjadi akibat kurangnya rasa peduli sebagian besar masyarakat terhadap akibat negatif yang ditimbulkan dari budaya tersebut. Dampak negatif dari mendarah dagingnya budaya konsumtif bisa dikatakan bercabang dan ikut mempengaruhi aspek-aspek lain dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai gambaran, jika seorang remaja telah memiliki tabiat konsumtif, maka ia akan terus menerus berkeinginan untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Untuk memenuhi keinginannya, orang tua harus mengeluarkan biaya ekstra yang tidak sedikit. Biaya ekstra ini berdampak pada kalkulasi pengeluaran bulanan sang ibu yang sebenarnya telah diperhitungkan sejak jauh hari. Bisa jadi, kebutuhan pokok mereka malah tidak terpenuhi. Akibatnya sang ayah pun harus bekerja lebih keras dalam mencari nafkah. Bahkan tak jarang ibu terpaksa ikut bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan pokok. Karena pekerjaan ibu yang menyita waktu, urusan rumah pun jadi tidak terpegang sehingga ayah dan anak-anaknya sering kali pulang dengan disambut oleh keadaan rumah yang tidak nyaman. Kehadiran ibu yang biasanya selalu siap mendengarkan cerita keseharian suami dan anak-anaknya pun dirindukan karena sang ibu terlalu lelah setelah seharian bekerja. Keharmonisan rumah tangga berkurang, dan pada akhirnya masalah-masalah lain bermunculan. Akar dari semua permasalahan tersebut hanya satu yakni sifat konsumtif.


reslfoodplating.blogspot.com

Hubungan antara perilaku konsumtif yang membudaya dan dampaknya terhadap perekonomian merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Budaya konsumtif dalam suatu masyarakat dapat menjadi penyebab perekonomian masyarakat tersebut memburuk, dan sebaliknya, perekonomian yang baik (atau bahkan sangat baik) di kalangan menengah ke atas dapat memicu perilaku konsumtif dalam kelompok masyarakat tersebut. 

Sebetulnya perilaku konsumtif yang dialami oleh sebagian masyarakat kita ini adalah dipengaruhi oleh gaya hidup. Coba kita introspeksi diri kita, benarkan kita sudah membelanjakan uang kita sesuai dengan kebutuhan? Atau kita lebih mementingkan gaya hidup sehingga kita berperilaku konsumtif? Gaya hidup konsumtif kita ini sebenarnya dipengaruhi beberapa faktor, misalnya konformitas atau ikut - ikutan orang.


pendidikanekonomi.com

Berbelanja (shopping) sebetulnya adalah budaya konsumtif yang paling sering kita temui di kehidupan sehari-hari yang menggelayuti berbagai kalangan. Di kalangan menengah ke bawah, budaya konsumtif paling sering terlihat di saat momen Hari Raya Lebaran. Bagaimanapun keadaan ekonomi mereka saat itu, kegiatan berbelanja pakaian baru bagi seluruh anggota keluarga nampaknya telah menjadi suatu keharusan. Mereka merasa seperti ada yang kurang bila tidak mengenakan segala sesuatu yang baru di hari raya.


hype.idntime.com

Tidak kalah dengan kalangan menengah ke bawah, kalangan menengah ke atas pun memiliki budaya konsumtif dalam bentuk yang berbeda. Kalangan ini lebih senang membelanjakan uangnya pada tempat yang sedang tren. Sebagai contoh, baru - baru ini, brand sepatu ternama yakni Nike mengadakan sale besar - besar di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Secara massive para pengunjung pusat-pusat hiburan di mana toko tersebut berada, mereka akan berbelanja dan memanjakan matanya di sana. Antrian yang mengular di depan pintu toko tersebut dan sampai penuh sesak menarik perhatian pengunjung mall yang lewat, meninggalkan kesan bahwa toko tersebut memang berkualitas bagus atau kebetulan sedang sale. Siapa yang tidak tahu kan harga sepatu Nike yang original jika tidak sale? Padahal, sebagian besar orang yang mengantre merupakan ‘konsumen dadakan’ yang mungkin bahkan belum menyiapkan dana untuk berbelanja. Hanya didasari oleh fenomena konformitas ditambah dengan perilaku konsumtif dari diri masing-masing, sebagian besar pengunjung mall tertarik untuk ikut berbelanja di toko tersebut.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut dapat kita lihat bagaimana budaya konsumtif secara perlahan tapi pasti menjelma menjadi salah satu ciri khas masyarakat di Indonesia di era globalisasi ini. Terlepas dari issue perekonomian di Indonesia, seperti naiknya harga BBM dan mahalnya harga sembako, masyarakat sepertinya selalu mempunyai dana untuk memenuhi nafsu belanjanya. Di satu sisi mereka menolak kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM, tetapi di sisi lain mereka tetap bisa menghabiskan uang mereka untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan.

Perilaku konsumtif yang mewabah di Indonesia baik di kalangan menengah ke bawah maupun kalangan menengah ke atas lambat laun berubah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Gaya hidup ini kemudian menuntun masyarakat kepada tumbuhnya budaya konsumtif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya budaya konsumtif antara lain lingkungan sosial (fenomena konformitas), ketidakmampuan menyesuaikan diri, brand awareness yang mencakup loyalitas merek, serta strategi perluasan merek yang dilakukan oleh perusahaan atau produsen. Budaya konsumtif jika terus menerus menggelayuti masyarakat Indonesia di berbagai kalangan, maka lama-kelamaan akan menjadi salah satu ciri masyarakat Indonesia. Kita sebagai bagian dari generasi penerus sudah sepatutnya menyikapi fenomena ini dengan baik. Menyikapi budaya konsumtif bisa dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi berkunjung ke pusat perbelanjaan serta menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat.



Sumber referensi ;
Loudon, David L. dan Albert J. Della Bitta. 1993. Consumer Behavior : Concepts and     Applications Volume 1, 4th ed. New York : McGraw Hill Education.
Masyita, Adlina. 2015. Budaya Konsumtif di Indonesia. adlinamasyita.wordpress.com
Sumber gambar ;
Tertera pada caption di bawah gambar



#onedayonestatus
#day20
#belajarmenulis
#IIPKaltimra


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dia adalah Hadiah Tuhan

Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ù…ُÙ„ْÙƒُ السَّÙ…َاوَاتِ ÙˆَالْØ£َرْضِ ۚ ÙŠَØ®ْÙ„ُÙ‚ُ Ù…َا ÙŠَØ´َاءُ ۚ ÙŠَÙ‡َبُ Ù„ِÙ…َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءُ Ø¥ِÙ†َاثًا ÙˆَÙŠَÙ‡َبُ Ù„ِÙ…َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءُ الذُّÙƒُورَ ﴿٤٩...